Data PDB China Sesuai Ekspektasi, Rupiah Berakhir Menguat 17 Poin

Data produk bruto (PDB) yang sesuai ekspektasi berdampak terhadap pergerakan sejumlah mata uang Asia, termasuk . Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menutup perdagangan Rabu (19/10) ini dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.008 per .

Rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan tipis 5 poin atau 0,04% ke posisi Rp13.020 per dolar AS. Jeda siang, mata uang Garuda kembali melaju dengan naik 17 poin atau 0,13% ke Rp13.008 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.36 WIB, spot masih bertahan di zona hijau dengan 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.009 per dolar AS.

Siang tadi, Biro Pusat Statistik China mengeluarkan rilis yang menunjukkan pada Juli hingga September 2016, PDB di negara itu tumbuh sebesar 6,7% per tahun dan 1,8% per kuartal. Selain itu, investasi aset tetap China juga meningkat 8,2% pada periode Januari hingga September, penjualan ritel naik 10,7%, dan produksi industri naik 6,1%.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, memaparkan bahwa setelah menguat bersamaan kurs Asia pada perdagangan kemarin (18/10), pergerakan rupiah diuji lagi hari ini jelang rilis PDB China. “Jika pertumbuhan PDB China ada di bawah angka 6,7%, maka hal itu bisa memberi sentimen negatif di Asia,” kata Rangga.

Di sisi lain, laporan data inflasi inti AS pada September yang lebih kecil dari perkiraan mendorong para investor untuk menurunkan prediksi kenaikan The Fed tahun ini sekaligus melemahkan laju dolar AS. Setelah dibuka turun tipis, the lanjut terdepresiasi 0,055 poin atau 0,06% ke level 97,840 pada Rabu siang.

“Penguatan dolar AS memudar pada pekan ini,” ungkap Ekonom Senior di Mizuho Bank Ltd., Vishnu Varathan. “Data inflasi inti yang di bawah ekspektasi dan pastinya menurun dibanding Agustus menyebabkan dolar AS kesulitan bergerak lebih tinggi.”

Loading...