Buka Senin, Rupiah Stagnan Saat Data NFP AS Anjlok

Rupiah bergerak stagnan pada perdagangan Senin (11/1) pagi - www.vibiznews.com

JAKARTA – tidak banyak bergerak pada Senin (11/1) pagi setelah data nonfarm payrolls terbaru diumumkan anjlok. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 09.02 WIB, Garuda mengawali di level Rp14.020 per . Sebelumnya, spot ditutup terdepresiasi tajam 110 poin atau 0,79% di posisi Rp14.020 per pada Jumat (8/1) kemarin.

Biro Statistik Tenaga Kerja akhir pekan kemarin mengumumkan bahwa nonfarm payrolls pada Desember 2020 turun 140.000 dari bulan sebelumnya. Angka tersebut berlawanan dengan konsensus ekonom yang memperkirakan ada penambahan 50.000 pekerjaan, sekaligus pembalikan tajam dari 336.000 yang ditambahkan pada November 2020.

Tingkat pengangguran negara itu tetap stabil di 6,7% sepanjang Desember 2020, sedikit lebih rendah dari perkiraan ekonom yang menyatakan 6,8%. Data hari Jumat mengakhiri tujuh bulan berturut-turut penambahan gaji untuk tenaga kerja AS dan mencerminkan perlambatan dalam pemulihan AS. Lebih dari 10 juta orang AS tetap menganggur, meninggalkan kemajuan yang cukup besar sebelum kembali ke era pra-pandemi.

“Sentimen penggerak rupiah pada hari ini akan datang dari respons pelaku pasar terhadap hasil rilis data ekonomi di AS, seperti nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran,” tutur Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, seperti dilansir dari Kontan. “Selain itu, berbagai perkembangan vaksin serta potensi stimulus fiskal AS yang dapat memengaruhi sentimen risiko dalam sepekan ke depan juga berpotensi menjadi sentimen penggerak rupiah.”

Dari dalam negeri, Josua menambahkan, pelaku pasar menantikan rilis data neraca perdagangan bulan Desember 2020 yang diperkirakan akan kembali mengalami surplus. Selain itu, progres pendistribusian vaksin dan vaksinasi yang akan dilaksanakan paling lambat 13 Januari mendatang juga akan jadi fokus pasar. “Rupiah hari ini akan bergulir di kisaran Rp13.950 hingga Rp14.150 per AS,” tutur Josua.

Sementara itu, Analis Asia Valbury Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa sentimen global yang akan memengaruhi adalah perkembangan situasi di AS yang sempat memanas jelang akhir pekan kemarin. Dari dalam negeri, ada sentimen penerapan kembali Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali, serta data consumer confidence pada Desember 2020 yang diperkirakan akan turun menjadi 90.

Loading...