Data Ekonomi Zona Euro Buruk, Rupiah Terpuruk Lagi di Hadapan Dolar AS

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (25/10), dengan pelemahan sebesar 13 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 15.210 per dolar AS. Sebelumnya, Rabu (24/10), Garuda ditutup terdepresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp 15.197 per USD setelah bergerak pada kisaran angka Rp 15.180 hingga Rp 15.198 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit menguat. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,49 persen menjadi 96,4336 lantaran euro melemah usai laporan indeks pembelian manajer yang buruk.

Berdasarkan dari HIS Markit pada Rabu (24/10), Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur Jerman dilaporkan turun ke level terendah 29 bulan sebesar 52,3 pada Oktober 2018, dari angka 53,7 pada September. Sementara itu, Composite Output Index PMI Zona Euro anjlok ke level terendah 25 bulan di angka 52,7 pada Oktober 2018.

Meski kemarin rupiah sempat menguat di awal dagang, rupanya rupiah kembali terlempar ke zona merah hingga di awal pembukaan perdagangan pagi hari ini. Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, gerak rupiah masih dipengaruhi oleh isu-isu di Eropa terkait politik di Italia soal defisit anggaran yang masih menjadi kemelut dengan Uni Eropa.

“Lalu terkait yang sedikit menurun paska Saudi Arabia yang mengatakan akan menutup kekurangan pasokan yang terjadi di pasar akibat diputusnya pasukan dari Iran. Itu juga yang membuat mata uang melemah terhadap dollar,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Para investor kini juga tengah menunggu data terbaru Amerika Serikat yang akan dilaporkan pada akhir pekan ini. Sementara itu, Direktur Garuda Berjangka Ibrahim menambahkan, kasus pembunuhan salah satu wartawan Washington Post telah menimbulkan banyak tekanan untuk Arab Saudi, seperti dari AS maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Ini mengakibatkan ketegangan karena pemerintah AS akan melakukan pencekalan terhadap 21 di Arab Saudi. AS juga sedang menunggu konferensi pers dari Presiden Turki,” jelas Ibrahim. Hal ini berdampak global karena banyak media internasional yang menyorot kasus tersebut meski Arab Saudi telah menyampaikan permohonan maaf.

Sedangkan langkah BI untuk mempertahankan suku bunga acuan dinilai tepat. “Mengingat apa yang dilakukan selama ini kurang bermanfaat. Karena yang dibutuhkan pasar bukan kenaikan suku bunga tetapi stimulus yang berhubungan dengan pajak, biaya impor,” kata Ibrahim.

Loading...