Data Ekonomi Membaik, Rupiah Justru Melempem di Awal Dagang

Jakarta dibuka 0,06 persen atau 8 poin ke level Rp 13.330 per pada pagi hari ini, Jumat (17/2). Kemudian rupiah lanjut melemah sebesar 0,05 persen atau 6 poin ke posisi Rp 13.328 per pada pukul 08.02 WIB.

Kemarin, Kamis (16/2) rupiah berakhir 5 poin atau 0,04 persen ke Rp 13.322 per AS usai bergerak pada rentang angka Rp 13.319 hingga Rp 13.336 per AS. Rupiah melemah ketika AS juga sedang terhimpit di pasar spot. Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi akibat beberapa faktor dari dalam negeri seperti kondisi pasca pilkada serentak, terutama pilkada DKI Jakarta.

Padahal data ekonomi terbaru di Indonesia sendiri dilaporkan cukup positif. merilis data neraca perdagangan Januari 2017 lalu yang terpantau mengalami surplus sekitar USD 1,4 miliar. Perolehan ini didukung oleh kinerja ekspor yang mencapai USD 1338 miliar dan impor yang hanya sekitar USD 11,99 miliar selama periode Januari 2017.

Ekonom Bank Central Asia, David Sumual menjelaskan bahwa data inflasi AS telah menahan laju pergerakan rupiah. Pada Januari lalu, inflasi Amerika Serikat berada pada level 0,6 persen berkat kenaikan harga bahan bakar. Sebelumnya, inflasi di AS sendiri mencapai 0,3 persen. “Inflasi memicu ekspektasi kenaikan bunga Maret nanti,” ungkap David.

Namun pertumbuhan ekonomi yang membaik dapat menopang rupiah agar tidak jatuh terlalu dalam. “Tetapi surplus neraca dagang yang melebar yang dibarengi juga oleh anjloknya dollar index, bisa memberikan alasan bagi rupiah untuk lebih kuat,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta.

Sementara itu fokus pasar saat ini akan beralih pada angka inflasi Februari 2017 yang diprediksi naik dan persiapan pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Di sektor global, investor juga akan memantau hasil notulensi FOMC meeting pada 22 Februari 2017 mendatang.

Loading...