Data Ekonomi AS Tumbuh 2,6%, Rupiah Lanjut Melemah di Awal Pekan

Rupiah Melemah - bisnis.com

Data terbaru yang cukup positif, meski tak sesuai ekspektasi, membuat melanjutkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Senin (29/1) ini. Seperti dipaparkan Bloomberg Index, Garuda membuka transaksi hari ini dengan melemah 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.315 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 17 poin atau 0,13% di posisi Rp13.306 per AS pada akhir pekan (26/1) kemarin.

Pada akhir pekan kemarin waktu setempat, Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa ekonomi Paman Sam tumbuh sebesar 2,6% (year on year) pada kuartal keempat 2017. Meski masih lebih rendah daripada ekspektasi pasar yang sebesar 3%, namun pemerintah setempat tetap optimistis, terutama mengenai data (PDB) yang didukung kenaikan impor dan belanja , yang mengindikasikan aktivitas ekonomi yang sehat.

Sementara, pada pekan ini, global menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (). Jika hasil rapat tersebut memberikan pernyataan bernada hawkish terkait rencana kenaikan suku bunga acuan, maka berpotensi melemahkan kembali pergerakan indeks dolar AS, yang sebelumnya sudah terjun ke level terendah dalam tiga tahun.

“The Fed kemungkinan masih akan mempertahankan kebijakan mereka pada pertemuan bulan ini,” ujar Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, seperti dilansir Kontan. “Pasalnya, mengingat data inflasi AS terbaru masih di bawah prediksi, sepertinya tidak mungkin menaikkan suku bunga acuan mereka dalam waktu dekat.”

Sepanjang pekan kemarin, meski akhirnya berakhir melemah pada tutup minggu, namun secara keseluruhan, laju mata uang Garuda cenderung perkasa melawan dolar AS. Pernyataan Presiden Donald Trump yang menginginkan dolar AS lebih kuat memang sempat mengatrol posisi greenback, namun investor global telah terlebih dulu mengurangi posisinya.

“Pada akhir pekan lalu, pasar cukup berhati-hati usai terjadinya perbedaan pendapat antara Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dengan Donald Trump ketika menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Swiss,” timpal Ekonom BCA, David Sumual. “Kondisi tersebut diprediksi masih akan bertahan di awal pekan ini.”

Loading...