Data Ekonomi AS Solid, Rupiah Kembali 14.000

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – Rupiah gagal kembali ke zona hijau pada Rabu (6/11) sore ketika data ekonomi AS terbaru menunjukkan hasil yang solid, menahan pelemahan yang dialami agar tidak terlalu dalam. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.49 WIB, Garuda melemah 54 poin atau 0,38% ke level Rp14.023 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.992 per dolar AS, menguat 39 poin atau 0,27% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.031 per dolar AS. Di saat yang hampir berbarengan, mata uang tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,36% dialami peso Filipina.

Dari global, indeks dolar AS masih berada di atas angin terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Rabu, khususnya terhadap mata uang safe haven, di tengah meningkatnya harapan untuk kesepakatan perdagangan AS-China dan serangkaian data ekonomi AS yang solid. Mata uang Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,0053 poin atau 0,05% ke level 97,930 pada pukul 12.16 WIB.

Dilansir dari Reuters, sebuah survei pada sektor AS yang diterbitkan pada hari Selasa (5/11) menunjukkan sentimen telah meningkat pada Oktober dari level terendah tiga tahun di bulan sebelumnya. Indeks sektor non-manufaktur oleh ISM (Institute for Supply Management) naik menjadi 54,7 dari 52,6 pada September, mengalahkan ekspektasi pasar.

Rebound tersebut langsung sempat mendongkrak nilai tukar dolar AS, mengingat penurunan indeks akan menunjukkan bahwa keresahan dalam perdagangan yang melanda juga menginfeksi sektor jasa. Data ini sendiri datang setelah laporan ketenagakerjaan AS yang kuat pada pekan lalu. “Di atas masalah perdagangan AS-China, pasar bereaksi terhadap tanda-tanda kekuatan ekonomi Paman Sam saat ini,” kata direktur valuta asing di Societe Generale, Kyosuke Suzuki.

Saat ini, fokus pasar memang tidak bisa jauh-jauh dari sengketa perdagangan antara AS dan China. Terbaru, investor berharap bahwa administrasi Presiden Donald Trump dapa memutar kembali beberapa tarif yang telah dikenakan terhadap barang impor dari Negeri Panda, sebagai bagian dari kesepakatan ‘fase 1’, yang meningkatkan sentimen risiko.

Loading...