Data Ekonomi AS Positif, Rupiah Masih Betah Bertengger di Zona Merah

Rupiah - Jitunews.comRupiah - Jitunews.com

Jakarta rupiah pada awal pagi hari ini, Rabu (31/10) dibuka melemah 1,5 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 15.225 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (30/10), Garuda berakhir terdepresiasi 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp 15.224 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,45 persen menjadi 97,0104 lantaran para pelaku tengah mencerna sejumlah data ekonomi yang secara umum dilaporkan positif.

Dilansir Xinhua, pada Rabu (31/10), indeks keyakinan konsumen Amerika Serikat terpantau meningkat pada bulan Oktober 2018, mengikuti peningkatan moderat pada bulan September. Indeks pada September sebesar 135,3 dilaporkan naik menjadi 137,9 pada bulan Oktober 2018 atau konsensus pasar pada level tertinggi selama 18 tahun.

Kemudian Indeks Rumah Nasional juga dilaporkan mengalami peningkatan tahunan sebesar 5,8 persen pada Agustus atau turun dari 6 persen pada bulan sebelumnya. Menurut para analis, kelemahan di antara eksportir Asia sehubungan dengan kekhawatiran tentang perdagangan dan global, kekhawatiran tentang perlambatan Eropa dan ketidakpastian politik di Jerman dan Italia ada di belakang dolar AS yang belakangan ini outperformance.

The Greenback kembali perkasa setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bakal mengenai tambahan kembali pada USD 257 impor asal China. Trump mengancam akan menerapkan tarif baru tersebut apabila pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada bulan November 2018 tak menemukan jalan keluar.

Menurut Direktur Garuda Berjangka Ibrahim, perang dagang antara AS dengan China mengakibatkan ekonomi China jadi melambat. “Faktor penguatan dollar AS lainnya dampak dari data pertumbuhan ekonomi AS kuartal III yang cukup baik, sehingga ada ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga di Desember 2018 sebesar 25 basis poin,” kata Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan jika dolar AS menguat karena data inflasi inti AS (kategori Core PCE) bulan September 2018 yang sesuai dengan prediksi pasar sebesar 2 persen (YoY). “Mata uang di Asia cukup melemah, khususnya rupiah yang mengalami pergerakan sideways. Namun, dalam penutupannya tidak terkoreksi begitu banyak karena AS berupaya untuk melakukan negosiasi sehingga berbalik kembali kondisinya lebih positif,” tutupnya.

Loading...