Data Ekonomi AS Diramal Kinclong, Rupiah Terpuruk di Penutupan

Survei tenaga kerja swasta di yang mengisyaratkan kenaikan membuat the greenback perkasa di Asia sekaligus menggerus emerging market, termasuk . Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menutup Kamis (9/3) ini dengan pelemahan sebesar 40 poin atau 0,30% ke level Rp13.390 per AS.

Rupiah sudah sejak awal dagang dengan dibuka turun 23 poin atau 0,17% ke posisi Rp13.373 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 24 poin atau 0,018% ke level Rp13.374 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.41 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah kembali anjlok 26 poin atau 0,19% ke posisi Rp13.376 per dolar AS.

Sebuah survei yang dilakukan ADP melaporkan bahwa tenaga kerja swasta di Negeri Paman Sam menunjukkan kenaikan yang signifikan sehingga makin mendorong penguatan dolar AS, setelah sebelumnya telah didorong oleh sentimen kenaikan . Hingga pukul 10.07 WIB, dolar AS menguat 0,06% ke level 102,13, mendekati level tertinggi dalam 6 bulan.

ADP melaporkan data tenaga kerja AS di sektor swasta bertambah 298 ribu pada Februari 2017, atau yang terbesar sejak April 2014. Data resmi sektor ketenagakerjaan AS sendiri bakal dirilis Jumat (10/3) malam waktu setempat.” Jika laporan ketenagakerjaan yang lain juga tumbuh positif, maka tidak ada yang bisa mencegah Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunga,” jelas Ekonom RBC Capital Markets, Tom Porcelli.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.373 per dolar AS, melemah 33 poin atau 0,24% dibandingkan perdagangan kemarin di posisi Rp13.340 per dolar AS. Di saat yang sama, mayoritas mata uang Asia tertekan dolar AS dengan pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan sebesar 1,04%, disusul dolar Taiwan sebesar 0,49% dan rupee India dengan 0,23%.

Loading...