Data Ekonomi AS Cemerlang, Rupiah Lagi-Lagi Tergelincir di Awal Dagang

Rupiah - validnews.coRupiah - validnews.co

Jakarta rupiah dibuka melemah sebesar 10,8 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 15.189,8 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (5/10). Sebelumnya, Kamis (4/10), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 104 poin atau 0,69 persen ke level Rp 15.179 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit melemah terhadap euro dan yen di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, namun tetap mendekati level tertinggi baru-baru ini. Dolar AS sedikit tergelincir lantaran para pelaku tengah mengevaluasi dampak kemunduran pemerintah yang meningkatkan imbal hasil obligasi Amerika Serikat ke level tertinggi 7 tahun.

AS yang positif serta pernyataan pejabat Federal Reserve, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell yang bernada hawkish telah membuat para cemas dan mengantarkan imbal hasil obligasi AS dan pasangan mata uang euro/dolar menembus level teknis penting.

“Pasar masih mencoba untuk mencari tahu apa yang mendorong hal tersebut. Sekarang ini apakah istirahat teknis itu berkelanjutan,” ujar kepala valas Amerika Utara TD Securities di Toronto, Mark McCormick, seperti dilansir Antara.

Dolar memiliki kinerja yang positif berkat dukungan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Di sisi lain, data ekonomi di besar lain, termasuk zona euro justru tidak sanggup memenuhi ekspektasi. Pasar juga tengah menantikan data pekerjaan AS untuk bulan September 2018 yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat. Data tersebut akan memberi indikasi baru untuk pertumbuhan upah dan kekuatan pasar tenaga kerja.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, rupiah makin tak berdaya usai dilaporkannya data ekonomi AS yang positif pada Rabu lalu. Data tersebut semakin menguatkan rencana The Fed untuk menaikkan suku bunganya lagi pada Desember 2018.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri pun berpendapat jika krisis politik di Italia karena defisit anggaran pemerintah telah membuat euro terkoreksi hingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Alhasil keberadaan mata uang emerging market, termasuk rupiah saat ini dianggap kurang begitu menarik. “Para pelaku pasar mulai memandang dollar AS menjadi satu-satunya mata uang yang masih aman dan punya prospek positif,” beber Reny, seperti dilansir Kontan.

Loading...