Data Ekonomi AS Buruk, Rupiah Makin Perkasa di Akhir Pekan

Jakarta – Kurs akhir pekan ini, Jumat (2/9) ditutup menguat 22 poin atau 0,17 persen ke angka Rp 13.247 per AS. Berdasarkan data dari Bloomberg Index, sepanjang hari ini mata uang Garuda diperdagangkan di kisaran angka Rp 13.219 hingga Rp 13.280 per AS.

Sementara itu, pagi tadi rupiah mengawali perdagangan dengan penguatan 14 poin atau 0,11% ke angka Rp 13.255 per dolar AS. Penguatan rupiah sejak akhir kemarin masih didorong oleh data ekonomi yang buruk.

Menurut Bloomberg, kekuatan dolar AS sedikit tergerus sejak Kamis kemarin dan masih berlangsung hingga hari ini. Pelemahan dolar AS ini mengakibatkan beberapa mata uang lain yang sebelumnya melemah mengalami kenaikan tipis.

Di spot exchange, nilai tukar dolar AS semakin tak berdaya karena lambatnya data pekerja di Amerika. Selama bulan lalu, pekerja hanya berada di posisi 18 ribu orang saja, jauh lebih rendah di banding bulan sebelumnya yang mencapai 155 ribu pekerja.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa indeks (PMI) di Amerika Serikat untuk bulan Agustus hanya sebesar 49,4, lebih rendah 3,2 poin dari perolehan bulan Juli 2016, yakni 52,6.

“Rendahnya data tenaga kerja bukan hal baru sebenarnya. Sekarang pelaku pasar fokus pada data-data lainnya,” ujar Ekonom ANZ Bank Ltd, Sharon Zollner.

Senada dengan hal itu, Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, “Dolar AS terkoreksi lagi hingga dini hari tadi. Setelah pertambahan tenaga kerja AS turun. minyak juga terus turun dengan semakin banyaknya data yang menunjukkan bahwa pasokan terus naik.”

Saat ini pasar sedang menanti data tenaga kerja non- AS yang akan dirilis nanti malam dan pertumbuhannya juga diperkirakan lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Loading...