Data Ekonomi AS Alami Kontraksi, Rupiah Melaju 30 Poin di Awal Dagang

Meski sentimen cukup , namun rupiah tak mampu berbuat banyak pada awal pekan (17/10) kemarin. Namun, untuk (18/10), mata uang Garuda diprediksi mampu bangkit menguat menyusul pelemahan indeks dolar AS merespon ekonomi AS yang mengalami kontraksi dan pidato Wakil .

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan 30 poin atau 0,23% ke level Rp13.039 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.43 WIB, spot lanjut menguat 17 poin atau 0,13% ke posisi Rp13.052 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau dibuka turun tipis 0,080 poin atau 0,08% ke level 97,808.

Pelemahan dolar AS terjadi menyusul keluarnya hasil yang bervariasi pada data ekonomi di negara tersebut yang menyebabkan kemungkinan adanya kebijakan moneter untuk tetap akomodatif. The terdepresiasi usai data manufaktur di New York secara tak terduga mengalami kontraksi, sedangkan data produksi pabrikan nasional tumbuh untuk ketiga kalinya dalam empat bulan.

Pidato Wakil Gubernur The Fed, Stanley Fischer, yang menguraikan penekanan pertumbuhan dan tingkat suku bunga di New York juga turut berimbas negatif pada laju dolar AS. “Dolar tertahan setelah kinerja positif dalam beberapa minggu terakhir,” kata Kepala Analis Pasar di Commonwealth Foreign Exchange, Omer Esiner.

Sementara itu, menurut Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta, rupiah berpeluang menguat pada hari ini didorong surplus yang tinggi dan tekanan eksternal yang semakin berkurang. “Rencana pemerataan harga BBM di seluruh bisa menekan ekspektasi inflasi walaupun itu berarti subsidi dari pemerintah atau Pertamina. Rupiah berpeluang menguat hari ini,” katanya.

Loading...