Data-Data Ekonomi AS Negatif, Rupiah Berhasil Rebound di Awal Dagang

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

Jakarta – Kurs dibuka rebound alias menguat 34,5 poin atau 0,25 poin ke posisi Rp 14.033 per dolar AS di awal pagi hari ini, Rabu (13/2). Kemarin, Selasa (12/2), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 34 poin atau 0,25 persen ke level Rp 14.068 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,36 persen menjadi 96,7121 lantaran banyaknya data yang lebih rendah dari perkiraan.

Seperti dilansir Xinhua melalui iNews, berdasarkan dari Federasi Independen (NFIB), indeks optimisme -bisnis kecil Amerika Serikat melemah 3,2 poin pada Januari 2019 lantaran para pemilik menyatakan semakin khawatir terhadap prospek ekonomi AS di masa depan.

Angka 101,2 merupakan level terendah sejak minggu menjelang pemilihan umum 2016, mengindikasikan ketidakpastian di antara pemilik kecil lantaran penutupan pemerintah atau government shutdown yang lama dan ketidakstabilan pasar keuangan. Sedangkan indeks ketidakpastian NFIB naik sebesar 7 poin menjadi 86, level tertinggi kelima dalam sejarah 45 tahun survei.

Sementara itu, menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, rupiah kemarin terkoreksi lantaran terdampak sentimen perang dagang dan sejumlah pelemahan ekonomi global. Ibrahim berpendapat bahwa para pelaku saat ini tengah fokus pada pembicaraan perdagangan tingkat tinggi di China pekan ini, di mana Washington diprediksi akan terus menekan Beijing pada tuntutan lamanya.

Bahwa pihak Washington melakukan reformasi struktural guna melindungi kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan Amerika, untuk mengakhiri kebijakan yang bertujuan memaksa transfer ke perusahaan China, dan mengekang subsidi industri.

“Pembicaraan minggu ini datang ketika dua negara ekonomi terbesar di dunia mencoba untuk menuntaskan kesepakatan sebelum batas waktu 1 Maret,” ujar Ibrahim, seperti dilansir Kontan. Setelah itu, tarif AS untuk impor China sebesar USD 200 miliar diperkirakan bakal meningkat dari 10% menjadi 25%.

Euro juga pada posisi melemah lantaran European Central Bank (ECB) diperkirakan bakal mempertahankan kebijakan moneter yang sangat akomodatif tahun ini. Pasalnya, pertumbuhan melambat di zona Eropa dan inflasi yang tetap rendah.

Loading...