Data Awal Tenaga Kerja Non-Farm AS Lemah, Rupiah Dibuka Menguat

Rupiah - sumutinvest.comRupiah - sumutinvest.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp 14.180 per AS di awal perdagangan hari ini, Jumat (5/4). Kemarin, Kamis (4/4), Garuda berakhir terapresiasi 41 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp 14.182 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak The terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,22 persen menjadi 97,3047 lantaran euro melemah. Pelemahan euro ini terjadi karena lembaga-lembaga utama Jerman secara signifikan telah menurunkan perkiraan PDB Jerman untuk tahun 2019 ini, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap perekonomian di zona euro.

Pada Kamis (4/4), 5 lembaga penelitian ekonomi terkemuka Jerman secara signifikan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Jerman pada 2019 dalam prospek ekonomi gabungan. Adapun produk bruto (PDB) Jerman diperkirakan hanya akan naik 0,8 persen, penurunan lebih dari 1 poin persentase dibanding perkiraan penurunan 2018 sebesar 1,9 persen.

Euro pun dilaporkan melemah karena data ekonomi Jerman yang rendah dan laporan bahwa Italia akan memangkas perkiraan pertumbuhannya, sehingga turut meningkatkan kekhawatiran terkait melemahnya pertumbuhan di wilayah Eropa.

Sebagai informasi, pesanan industri Jerman turun dengan paling tajam dalam lebih dari 2 tahun pada Februari 2019 lantaran Jerman tertekan oleh penurunan permintaan asing. Hal ini pula yang menimbulkan anggapan jika ekonomi terbesar Eropa ini memiliki awal yang lemah pada tahun ini.

Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, rupiah kembali menguat lantaran pelaku menilai jika negosiasi dagang antara AS dengan China akan menghasilkan kesepakatan yang positif. “Potensi kesepakatan dagang kian besar seiring kesadaran AS dan China bahwa perang dagang akan melemahkan perekonomian kedua negara tersebut,” kata Mikail, seperti dilansir Kontan.

Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi menambahkan, rupiah juga menguat berkat sentimen koreksi data awal penyerapan AS di luar sektor pertanian dan pemerintah atau ADP Non-Farm Employment Change. Penyerapan pada periode Maret ternyata hanya sebesar 129.000, lebih rendah dari Februari sebesar 197.000.

Loading...