Dampak Pengurangan Produksi di China, Harga Bijih Besi Melonjak

Yangon komoditas beranjak naik dari kemerosotan panjangnya dan memberi harapan di sektor . Namun ketidakpastian dan ambiguitas di yang permintaannya mempengaruhi harga banyak sumber daya telah menciptakan keraguan atas berapa lama kenaikan harga ini bisa bertahan.

Faktor utama penyebab kenaikan harga ini disebabkan oleh stimulus domestik lanjutan China dan pemotongan produksi batu bara. Selain itu juga disebabkan oleh meningkatnya spekulasi komoditas menyusul terpilihnya Donald sebagai AS selanjutnya.

Harga bijih besi telah melonjak di tengah perdagangan spekulatif dan janji AS terkait negara. Setelah diperdagangkan dalam kisaran $ 45-55 per ton pada awal tahun ini, bahan utama dalam baja baru-baru ini mendekat $ 80 namun reli segera memudar dan harga patokan berdasar Indeks Baja ditutup $ 69,8 pada (21/11) lalu.

Batubara metalurgi yang digunakan dalam pembuatan baja harganya naik 4 kali lipat sejak awal tahun lalu China memaksa penambang domestik mengurangi kelebihan produksi dan memicu mengimpor lebih banyak dari Indonesia, Australia, dan tempat lain. Harga batubara thermal yang dipakai untuk pemanas dan pembangkit listrik naik 2 kali lipat.

Produksi batubara China merosot lebih dari 10% dalam 9 bulan pertama 2016 dibanding tahun sebelumnya, sedangkan impor naik 15,2% usai memotong jumlah hari pertambangan dapat beroperasi dari 330 hari per tahun menjadi 276 hari.

Kenaikan harga komoditas telah mengangkat Indeks Baltic Dry yang mengamati jalur pelayaran untuk mengirim bahan dasar. Indeks mencatat kenaikan 1.257 dalam 2 tahun pada (18/11) usai merosot ke rekor terendah dari 290 pada Februari. Indeks sebelumnya memuncak di 11.793 pada Mei 2008.

Prospek harga bijih besi sangat tergantung pada sektor properti dan China, sebagai negara yang mengkonsumsi sekitar setengah dari sebagian besar komoditas utama dunia dan juga merupakan importir utama bijih besi.

konstruksi baja yang kuat pada (kuartal keempat) tahun ini dan infrastruktur telah menguat sepanjang tahun dan meningkat pada kuartal 4,” ujar Tim Murray, Managing Partner di J Capital Research. Murray juga memperkirakan harga besi sudah mencapai puncaknya dan akan jatuh ke $ 50 per ton pada akhir tahun dan rata-rata $ 40 hingga $ 45 pada tahun 2017 mendatang.

Loading...