Dampak Keputusan OPEC Direspon Positif di Asia

Coryton Oil Refinery - geograph.org.uk

Kelompok pemasok utama kebutuhan minyak mentah di Asia positif memutuskan untuk meninggalkan batas produksi . Hal itu dilakukan dengan harapan bahwa membanjirnya minyak murah di akan menekan saingan. Dengan saat ini yang mendekati level terendah selama enam tahun terakhir di tengah melimpahnya stok , kebijakan terus membanjiri pasar memberikan sedikit alasan untuk rebound harga, menurut IG Ltd.

Kemerosotan harga terburuk dalam energi sejak krisis keuangan tahun 2008 itu dianggap merupakan keuntungan bagi ekonomi Asia yang sangat tergantung pada impor minyak. Keadaan ini diharapkan membantu menekan , mendukung belanja rumah tangga, dan meningkatkan keuntungan pengilangan. Setelah OPEC memutuskan “everyone does whatever they want,” – meminjam pernyataan menteri perminyakan Iran, keadaan menguntungkan untuk Asia mungkin akan terus berlanjut.

“Konsumen besar BBM akan mengambil banyak manfaat, dan penyuling minyak akan mendapatkan tidur nyenyak,” ucap H. Kumar, direktur IIndia‚Äôs Mangalore Refinery & Petrochemicals Ltd., dalam sebuah wawancara telepon dengan Blomberg Senin (07/12). “Akan ada banyak stabilitas di pasar.”

Kawasan Asia-Pasifik akan mengonsumsi 31.87 juta barel minyak per hari pada tahun 2015, lebih besar dari di angka 31.28 juta barel, menurut laporan yang diterbitkan pada 13 November 2015 oleh Badan Energi Internasional (International Energy Agency). Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan, akan menjadi konsumen terbesar minyak menurut proyeksi IEA.

India dan Filipina cenderung sangat diuntungkan karena mereka sangat bergantung pada impor minyak mentah, menurut analisis Bloomberg Intelligence. Kedua negara itu juga bergantung pada belanja konsumen untuk pertumbuhan ekonominya, dan minyak murah biasanya memberikan rumah tangga uang lebih banyak untuk dibelanjakan. Pertumbuhan 7,4 persen di India adalah yang terkuat di antara negara-negara berkembang di Asia. Sedangkan Filipina telah bertumbuh di angka 6 persen year-on-year, menurut Bloomberg Intelligence.

“Ini mungkin pertama kalinya kami mengalami margin industri pengilangan menguat ketika harga minyak menurun,” kata Kim Woo Kyung, juru bicara SK Innovation Co., kilang terbesar Korea Selatan. “Kami sedang menikmati margin produk yang kuat, terutama bensin, dan kami percaya ini akan terus berlanjut. Meskipun kami akan melihat minyak turun sementara di bawah $ 40 per barel, internal kami percaya $ 40 adalah batas bawah untuk minyak.” [blo/yap]

Loading...