Dampak Devaluasi Mata Uang Cina Dirasakan Ekonomi Dunia

Setelah hanya lima bulan mengejutkan dunia dengan mendevaluasi yuan pada lalu, Kamis (7/1) kemarin, People’s Bank of China (POCBC) atau Bank Rakyat , kembali memotong acuan untuk yuan sebesar 0,5%. Dampaknya, nilai mata yuan langsung jeblok ke 6,5945 per dolar AS, terlemah sejak Februari 2011. Hanya dalam empat hari, mata Cina telah kehilangan nilai sebesar 1,5%.

Namun tak hanya dirasakan Cina, devaluasi yuan diprediksi akan berimbas besar terhadap nilai mata uang, saham, serta . Pertama, hal tersebut semakin menimbulkan kekhawatiran mengenai laju pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Publik menilai, jika keputusan devaluasi yuan pada Agustus lalu telah menimbulkan kepanikan di global, sekarang kekhawatiran terhadap laju perekonomian di Cina bakal semakin bertambah.

Pada November tahun lalu, ekspor Cina menurun drastis hingga 6,8 persen. Berkurangnya permintaan global serta meningkatnya biaya menjadi penyebab menurunnya ekspor Cina selama lima bulan beruntun.

Selain itu, devaluasi yuan juga menjadi kabar buruk bagi negara yang berorientasi ekspor seperti , Hong Kong, Korea Selatan, dan . Untuk pasar Cina, nilai ekspor mereka tentunya akan menjadi lebih mahal. Namun di sisi lain, negara-negara tersebut juga harus bersaing dengan negara lain untuk mengekspor barang ke Negeri Tirai Bambu.

Survei Bloomberg menyebutkan, perusahaan non- di Asia mampu mengumpulkan lebih dari 80 persen pendapatan mereka dari pasar Cina, Eropa, dan Amerika. Jika dikombinasikan, keuntungan bersih tahunan mereka naik dari 40 miliar dolar AS pada tahun 2010 menjadi 50 miliar dolar AS pada tahun 2013.

Devaluasi yuan juga dikhawatirkan dapat memukul nilai mata uang Asia lainnya serta komoditas perdagangan. Menurut Barclays, Standard Chartered, dan Mizuho Bank, mata uang Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura adalah mata uang yang paling rentan mengalami pelemahan. Pada hari Kamis (7/1), nilai dolar Singapura merosot ke posisi terendah dalam enam tahun terakhir, sedangkan won (mata uang Korea Selatan) berada di level terendah dalam empat bulan terakhir.

Di samping itu, devaluasi yuan juga akan memberikan tekanan pada negara-negara berkembang di Asia, seperti Vietnam, Malaysia, dan Indonesia untuk menekan mata uang mereka sendiri. Devaluasi kompetitif seperti ini sebelumnya pernah terjadi ketika moneter menerjang Asia pada tahun 1997 silam. Menurut penelitian Financial Times terhadap lebih dari 100 negara, devaluasi kompetitif seperti ini memang bisa mengurangi impor, namun tidak memberikan manfaat apa pun terhadap pertumbuhan ekspor.

Terakhir, semakin melemahnya nilai yuan terhadap mata uang mitra dagangnya, juga semakin memperbesar risiko keuntungan perusahaan dan memengaruhi bank-bank di daerah. CEO DBS, Piyush Gupta, pada Rabu (6/1) lalu telah memperingatkan bahwa depresiasi yuan bisa menyebabkan nilai utang perusahaan Cina dalam bentuk dolar AS bakal semakin tinggi, dan pembayaran utang tersebut akan menjadi jauh lebih sulit. [apk/st]

Loading...