Dampak Brexit, Kurs Rupiah Dibuka Melemah 3 Poin

Jakarta – Pada awal pagi ini, Rabu (12/10), mata uang dibuka 0,02% atau 3 poin ke level Rp 13.035 per AS. Akan tetapi, kemudian berbalik menguat tipis 0,03% atau 4 poin ke Rp 13.028 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah berakhir melemah 55 poin atau 0,42% dan kembali berada pada posisi Rp 13.032 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 12.978 hingga Rp 13.044 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah di tengah mayoritas mata uang lain di yang juga tergerus oleh kekuatan dolar AS karena bertambahnya probabilitas kenaikan suku bunga .

NH Korindo Securities Indonesia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini masih akan sideways. Kepala NH Korindo Reza Priyambada menuturkan bahwa lemahnya komoditas dan laju mata uang Asia usai pound sterling tak mengalami kenaikan di spot exchange membuat pergerakan rupiah berpotensi untuk melemah.

“Laju rupiah diperkirakan masih sideways dengan adanya potensi pelemahan di range support Rp 13.065 dan resisten Rp 12.980,” ujar Reza.

Sementara itu kenaikan harga yang mendorong imbal hasil obligasi dan prediksi kemenangan kandidat Presiden AS Partai Demokratik Hillary Clinton dalam debat capres periode kedua juga turut mendorong penguatan dolar. Tahun ini kemungkinan naiknya suku bunga melonjak ke angka 68%.

“Dolar telah naik terdorong ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember seiring meningkatnya kemungkinan Clinton sebagai Presiden serta menguatnya harga minyak,” ungkap Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang National Australia Bank Ltd.

Sejalan dengan hal itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat jika pergerakan rupiah hari ini masih akan ditentukan pergerakan pound sterling dan . Terutama usai rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) tahun 2017 depan. “Apabila poundsterling dan mengalami pelemahan lanjutan, maka mata uang di Asia juga kembali koreksi,” tutur Josua.

Walau dari faktor dalam negeri dilaporkan adanya kenaikan indeks penjualan ritel dan perkiraan BI terhadap laju inflasi bahan kebutuhan pokok selama tahun 2016 yang masih terkendali dengan angka di bawah 4%, rupanya sentimen tersebut tak dapat mempertahankan posisi rupiah.

Loading...