‘Cuek’ dengan Risalah The Fed, Rupiah Menguat di Akhir Dagang

Rupiah tampaknya ‘cuek’ dengan risalah rapat yang menunjukkan bahwa AS tetap menjaga prospek adanya kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan selanjutnya. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda mengakhiri transaksi Kamis (23/2) ini dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.351 per dolar AS.

Rupiah membuka perdagangan hari ini dengan 5 poin atau 0,04% ke posisi Rp13.363 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali naik 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.359 per dolar AS. Jelang akhir dagang atau pukul 15.27 WIB, spot masih bertahan di zona hijau usai 14 poin atau 0,10% ke level Rp13.354 per dolar AS.

Kamis dini hari tadi (WIB), Bank Sentral AS merilis hasil notulensi rapat yang berlangsung 31 Januari hingga 1 Februari lalu. Kesimpulan yang bisa diambil adalah kenaikan suku bunga The Fed sepertinya akan terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan. Hanya saja, kata-kata yang digunakan oleh The Fed masih sama, yaitu ‘faily soon’. “Kita kembali menebak-nebak kata yang sangat ambigu tersebut dan interpretasi market adalah kondisi ini tidak banyak berubah dari yang sebelumnya,” ujar Chief Market Strategist TD Ameritrade, JJ Kinahan.

Dalam notulensi itu diketahui, para The Fed menggunakan waktu mereka saat rapat untuk mendiskusikan adanya perubahan yang diterapkan oleh pemerintahan baru di Gedung Putih. Konklusi yang tercipta adalah ada indikasi kuat kenaikan suku bunga akan dilakukan tak lama lagi. The Federal Open Committee mendiskusikan mengenai dampak dari penurunan pajak, sejumlah regulasi, serta tingginya di bawah kepemimpinan .

Sekadar informasi tambahan, saat ini, harapan pasar untuk kenaikan suku bunga acuan terbilang rendah, yakni sekitar 22% kemungkinan. Selain itu, investor juga memprediksi, kenaikan suku bunga AS akan dilakukan pada Juni 2017, atau lebih cepat dari perbandingan semula, yakni November atau Desember.

Loading...