Cuaca Tak Menentu, Harga Kopi Arabika Kering Beranjak Naik

Meski belum begitu populer jika dibandingkan Robusta, Arabika juga cukup banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di dataran tinggi. Bahkan, selain dikonsumsi sendiri di dalam negeri, Arabika ini juga menjadi salah satu yang banyak diekspor ke luar negeri.

Sayangnya, dengan kondisi cuaca yang tak menentu, seperti El Nino atau kemarau berkepanjangan beberapa bulan lalu, membuat kopi memburuk. Hal ini pun lantas menurunkan jumlah kopi. “Volume komoditas kopi pada tahun 2016 ini mengalami penurunan sekitar 15 persen akibat faktor cuaca yang tidak menentu,” ujar Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Jawa Timur, Ichwan Nursidik.

Hingga Oktober 2016, Gaeki Jawa Timur mencatat ekspor kopi hanya mampu mencapai 55 ribu ton. Padahal, ekspor kopi pada akhir tahun ini ditargetkan bisa mencapai 65 ribu hingga 70 ribu ton. Sebelumnya, pada tahun 2015 lalu, ekspor kopi dari Jawa Timur mencapai 75 ribu ton. Ekspor kopi tersebut antara lain ke negara Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Akibat rendahnya produksi kopi, kopi pun cenderung bergerak . Di tangan pedagang, kopi Arabika kering harganya saat ini berkisar Rp50 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Sementara, berdasarkan informasi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas Kementerian Perdagangan, harga kopi Arabika di Takengon saat ini berkisar Rp64.500 per kilogram.

Kopi Arabika sendiri dianggap memiliki rasa paling enak oleh para penikmat kopi. Dengan kandungan kafein yang lebih rendah dan rasa serta aroma yang lebih nikmat, tak heran jika harga kopi jenis ini lebih mahal dibandingkan kopi jenis Robusta.

Loading...