Kasus COVID-19 Tembus Sejuta, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - eljohnnews.comRupiah - eljohnnews.com

JAKARTA – Rupiah harus terkurung di zona merah pada Selasa (26/1) sore ketika kasus di dilaporkan hampir menembus angka satu juta, memberikan tekanan berat pada nilai tukar. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 42,5 poin atau 0,30% ke level Rp14.065 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.086 per dolar AS, terkoreksi tipis 4 poin atau 0,02% dari sebelumnya di level Rp14.082 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang justru mampu mengungguli greenback, menyisakan rupiah dan dolar Taiwan di zona merah.

Menurut analisis CNBC Indonesia, pelemahan yang dialami rupiah terutama disebabkan sentimen domestik. Jumlah kasus virus corona yang hampir menembus angka satu juta kasus membuat keder dan meninggalkan pasar keuangan dalam negeri. Per 25 Januari 2021, data yang dirilis Kementerian Kesehatan menyebutkan ada 999.256 kasus infeksi COVD-19 di Tanah Air.

Lonjakan kasus positif COVID-19 terjadi sejak masuk Januari 2021. Jumlah kasus positif baru beberapa kali berada di atas angka 10 ribu dalam satu hari. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah provinsi di Jawa Timur dan Bali tidak cukup efektif menangkal penyebaran virus corona, dengan rata-rata pasien bertambah 11 ribu orang setiap harinya.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak stabil walau masih dalam tren menurun pada hari Selasa, di tengah meningkatnya kasus virus corona, keraguan investor atas kecepatan penyaluran stimulus AS, dan pertemuan Federal Reserve pada pekan ini. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,01 poin atau 0,01% ke level 90,381 pada pukul 11.22 WIB.

Dilansir dari Reuters, investor mengira bahwa kontrol Partai Demokrat atas Kongres AS, yang dimenangkan pada putaran kedua awal Januari kemarin, dapat memuluskan pengeluaran bantuan pandemi yang sangat besar. Namun, selera atas aset berisiko berkurang karena sejumlah ketidaksepakatan menunda pengesahan stimulus sebesar 1,9 triliun dolar AS.

“Pasar telah menempuh perjalanan panjang dengan harapan bahwa COVID-19 menghilang dan pemerintah mengeluarkan banyak uang,” kata analis mata uang di Westpac, Imre Speizer. “Namun, keduanya telah terhenti dan karenanya investor beristirahat sambil menunggu beberapa petunjuk dalam beberapa minggu ke depan.”

Loading...