Lagi-Lagi Gegara Covid-19, Rupiah Ditutup Melemah 0,17%

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

harus puas tertahan di area merah pada perdagangan Rabu (21/7) sore karena tertekan penguatan AS seiring kekhawatiran pasar mengenai lonjakan kasus Covid-19 yang dipicu varian delta. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.542,5 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang di Benua terpantau bergerak terhadap greenback. Ringgit Malaysia memimpin pelemahan setelah terdepresiasi 0,28%, disusul yen Jepang yang minus 0,07% dan dolar Singapura yang terkoreksi 0,06%. Sebaliknya, peso Filipina mampu terbang 1,06%, diikuti rupee India yang menguat 0,35% dan yuan China yang naik 0,09%.

“Rupiah masih tertekan penguatan dolar AS, dipicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan kasus Covid-19 di berbagai akibat varian delta,” tutur analis pasar uang, Ariston Tjendra, dilansir dari CNN Indonesia. “Selain itu, membaiknya data perumahan AS menunjukkan perbaikan ekonomi AS sehingga mendukung penguatan greenback.”

Dari pasar , dolar AS sedikit mengambil napas dari reli yang lebih tinggi pada hari Rabu, sedikit berkurang dari puncak multi-bulan karena penghindaran aset berisiko mulai surut, meskipun ada penjualan ringan karena Bank Sentral Eropa (ECB) yang berhati-hati membuat euro tertekan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,058 poin atau 0,06% ke level 93,031 pada pukul 11.09 WIB.

“Dolar AS tampaknya memiliki arus dukungan yang cukup. Kenaikan dolar AS sebagian besar didorong oleh ekspektasi bahwa kekuatan ekonomi AS dapat mendorong suku bunga naik, tetapi baru-baru ini sedikit terbantu oleh penghindaran risiko,” tutur analis Westpac, Sean Callow, dilansir dari Reuters. “Suasana umum pada greenback tampak seolah-olah akan membutuhkan banyak hal untuk menggagalkan narasi dasar mata uang berada dalam kondisi yang cukup baik menuju konferensi Jackson Hole.”

Dengan tidak ada data ekonomi yang signifikan pada hari Rabu, para pedagang menantikan pertemuan ECB pada hari Kamis (22/7). Nada dovish diharapkan setelah Presiden Christine Lagarde meramalkan perubahan panduan selama wawancara minggu lalu. ECB mengumumkan strategi baru yang memungkinkan bank untuk menoleransi inflasi di atas target 2% dan Lagarde mengatakan pedoman kebijakan akan ditinjau kembali untuk menunjukkan komitmen bank.

Loading...