Pilar Ekonomi Digital, COVID-19 Pukul Sektor Travel dan Transportasi Online ASEAN

Transportasi Travel - www.capecoralchryslerdodgejeepram.comTransportasi Travel - www.capecoralchryslerdodgejeepram.com

SINGAPURA – Segmen travel and ride, yang pernah menjadi pilar pertumbuhan yang pesat di , telah terpukul secara drastis akibat pandemi virus corona. Menurut laporan tahunan yang dirilis Selasa (10/11) oleh Google, Temasek asal Singapura, dan konsultan Bain and Company dari AS, kedua sektor tersebut menyusut 13% dalam hal penggunaan di tengah COVID-19, karena perilaku pengguna bergeser imbas kebijakan lockdown.

Dilansir dari Nikkei, pembatasan pergerakan di 10 negara ASEAN untuk menegakkan jarak sosial, telah mencekik bagian-bagian yang terkait dengan transportasi dari internet blok tersebut. Ini termasuk perjalanan dan tumpangan, bahkan ketika orang yang tinggal di rumah berkontribusi pada lonjakan pembelian di e-commerce, grosir, dan layanan pengiriman makanan.

“Mobilitas perkotaan mengalami pukulan besar selama lockdown,” kata Aadarsh ​​Baijal, Kepala Praktik Digital Asia Tenggara di Bain and Company. “Pada puncaknya, kami memperkirakan turun 80%, dan bahkan saat pembatasan telah berkurang, banyak dari kami masih harus bekerja dari rumah dan itu mengakibatkan penurunan di sektor transportasi.”

Laporan e-Conomy SEA 2020 menemukan bahwa tingkat konsumen di segmen pengiriman makanan tumbuh 34%, sedangkan toko makanan online meningkat 33% setelah COVID-19 melanda wilayah tersebut karena perubahan perilaku belanja. Layanan pendidikan online mengalami pertumbuhan 22%, sementara streaming video meningkat 21%.

Laporan tersebut mensurvei sekitar 4.700 responden di Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina guna melacak pergeseran konsumsi digital mereka sebelum dan setelah pandemi melanda. Angka adalah persentase responden survei yang menjawab ‘lebih dari sebelumnya’ dikurangi persentase responden yang menjawab ‘kurang dari sebelumnya’.

Raksasa penyedia layanan pemesanan transportasi secara online, Grab dan Gojek, telah beralih ke pengiriman sebagai tanggapan atas perubahan yang dibawa oleh COVID-19. Di pasar asalnya di Singapura, Grab meluncurkan fasilitas cloud kitchen regional ke-56 pada bulan Oktober kemarin untuk melayani pesanan makanan secara online. Bisnis makanan sekarang menyumbang lebih dari 50% pendapatan unicorn tersebut.

“Pandemi telah membuat para pemain makanan dan minuman memikirkan kembali rencana ekspansi mereka,” tutur Dilip Roussenaly, Direktur Senior Deliveries di Grab Singapura pada saat peluncuran fasilitas tersebut. “Ini adalah salah satu upaya terbaru kami sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung mitra pedagang dalam membangun bisnis digital mereka.”

Sebelum pandemi, ride hailing melihat pertumbuhan eksponensial di ASEAN. Laporan Google, Temasek. dan Bain yang dikeluarkan tahun lalu mencatat bahwa permintaan untuk layanan tersebut membengkak lima kali lipat dari hanya 8 juta pengguna aktif pada 2015 menjadi lebih dari 40 juta. Segmen perjalanan online juga berkembang pesat, dengan sektor tersebut berkembang dari 19,4 miliar AS pada 2015 menjadi 34,4 miliar AS tahun lalu.

Namun, virus corona memukul sektor pariwisata dengan telak, ketika pemerintah di wilayah itu menutup perbatasan untuk pelancong guna menangkal penyebaran virus. Traveloka, salah satu perusahaan rintisan paling berharga di Indonesia, terpaksa memberhentikan 10% tenaga kerjanya pada awal April kemarin karena perlu memangkas biaya overhead setelah melihat ‘sejumlah besar’ permintaan pengembalian dana dari pelanggan yang membatalkan perjalanan mereka.

Meskipun virus membuat ASEAN terpuruk, studi tahun 2020 menetapkan ekonomi digital kawasan itu di angka 100 miliar dolar AS pada tahun ini dan kemungkinan lebih dari 300 miliar dolar AS pada tahun 2025 mendatang. “Kami memiliki banyak pengguna digital baru, lebih banyak dari sebelumnya. Dengan latar belakang pandemi global dan penurunan yang tidak menguntungkan, ekonomi digital Asia Tenggara tetap stabil,” ujar Stephanie Davis, Wakil Presiden Google Asia Tenggara.

Ekonomi digital Singapura, yang dikejutkan oleh virus, menyusut 24% selama setahun dari 12 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 9 miliar dolar AS pada 2020. Ini adalah satu-satunya negara ASEAN yang mengalami kontraksi dalam ekonomi internet, karena tetangganya justru mencatat pertumbuhan. Vietnam memimpin ekspansi blok, setelah ekonomi digital berkembang 16% dari 12 miliar dolar AS tahun lalu menjadi 14 miliar dolar AS tahun ini. Sementara itu, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi internet 11% dari 40 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 44 miliar dolar AS tahun ini.

Laporan tersebut memprediksi negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam dapat memperkuat ekonomi digital ASEAN hingga 2025. Nilai bisnis internet Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 23% menjadi 124 miliar dolar AS dalam lima tahun mendatang, sedangkan Vietnam diproyeksikan mencapai 52 miliar atau tumbuh hingga 29%.

Riset yang sama juga mengamati bahwa pendanaan swasta untuk unicorn telah melambat karena investor menghindar dari bisnis yang memakan banyak uang. Pendanaan untuk perusahaan-perusahaan ini turun menjadi 3 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun 2020, dibandingkan dengan 5,1 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Total nilai kesepakatan pun turun menjadi 6,3 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun ini, dibandingkan dengan 7,7 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Loading...