Gegara COVID-19, PDB Indonesia Kuartal II 2020 Bakal Makin Melambat

Ekonomi Indonesia Melambat - www.biospectrumindia.comEkonomi Indonesia Melambat - www.biospectrumindia.com

JAKARTA – Selasa (5/5) kemarin, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa ekonomi hanya tumbuh sebesar 2,97% dalam tiga bulan pertama 2020 yang berakhir Maret dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejumlah ekonom memprediksi bahwa bruto (PDB) dalam negeri pada kuartal kedua tahun ini berpotensi mengalami kontraksi yang lebih besar.

Dilansir dari Nikkei, produk domestik bruto (PDB) sebesar 2,97% tersebut turun dari 4,97% yang dicatat pada kuartal terakhir 2019. Angka tersebut juga secara signifikan lebih rendah dari 4,04% yang diperkirakan oleh jajak pendapat Reuters, sekaligus menjadi pembacaan terlemah sejak kuartal pertama tahun 2001, menurut BPS.

Sebenarnya, Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tidak memiliki satu pun kasus COVID-19 hingga awal Maret, dan langkah-langkah pembatasan sosial di ibukota Jakarta tidak diperkenalkan sampai pertengahan Maret. Namun, sebulan dipengaruhi oleh virus corona, serta perlambatan ekonomi , cukup untuk memperlambat pertumbuhan pada kuartal pertama secara signifikan.

Pertumbuhan rumah tangga, yang merupakan penyumbang lebih dari setengah PDB Indonesia, turun menjadi 2,84% dari 5,02% pada kuartal keempat tahun 2019. Meskipun hanya menyumbang kurang dari 10% dari PDB, sektor pariwisata juga sangat terpukul. Data terpisah yang dirilis pada hari Senin (4/5) menunjukkan kedatangan wisatawan asing jatuh 64% secara tahunan pada bulan Maret.

“Pertumbuhan PDB di Indonesia bertahan lebih baik daripada di tempat lain (di dunia) pada kuartal pertama, tetapi kami ragu angka ini akan terus bertahan,” ujar ekonom senior Asia di Capital Economics, Gareth Leather. “Indonesia lebih lambat dari negara-negara lain untuk mengunci ekonominya (dari virus corona), yang berarti akan lebih banyak kejatuhan pada kuartal kedua. Kami memprediksi ada kontraksi besar di kuartal kedua.”

Dengan jumlah kasus COVID-19 yang terus meningkat, sebanyak 11.587 kasus yang dikonfirmasi dan 864 kematian pada hari Senin, serta langkah-langkah pembatasan sosial di ibukota telah diperpanjang hingga akhir Mei, para pejabat bersiap untuk penurunan ekonomi yang jauh lebih parah di beberapa bulan mendatang. Kementerian Keuangan sendiri memperkirakan PDB tahun ini tumbuh hanya 2,3%, turun dari 5,02% pada tahun lalu.

Pemerintah telah menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi dampak ekonomi dari wabah virus, termasuk meringankan batasan defisit fiskal hukumnya, dan menyusun paket stimulus senilai Rp405 triliun , setara dengan 2,5% dari PDB. Bank Indonesia juga telah memotong sebanyak dua kali sepanjang tahun ini dan membeli surat utang pemerintah di primer, yang secara efektif mencetak uang.

Namun, Leather mengatakan ada ‘ruang terbatas’ untuk pelonggaran kebijakan. Peningkatan batas defisit fiskal menjadi 5% dari PDB dari 3% sebelumnya, menurutnya ‘masih jauh lebih rendah’ daripada negara-negara lain di kawasan ASEAN, sementara kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah juga membatasi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan bahwa paket stimulus Rp405 triliun saat ini ‘jauh dari ideal’ dan pemerintah perlu meningkatkannya secara signifikan, menjadi sekitar Rp1,6 kuadriliun. Langkah-langkah kebijakan yang ada telah membuat lembaga kredit waspada, dengan lembaga peringkat S&P Global merevisi peringkat jangka panjang Indonesia menjadi ‘BBB-negatif’ dari ‘BBB-stable’.

“Langkah-langkah fiskal pemerintah Indonesia yang berani akan membantu menstabilkan ekonomi dan mendukung respons kesehatan masyarakat yang lebih kuat, tetapi juga akan menambah stok utang publik,” katanya. “Posisi utang luar negeri Indonesia telah melemah setelah depresiasi rupiah yang tajam, dan risiko eksternal kemungkinan akan tetap meningkat untuk satu atau dua tahun ke depan.”

Loading...