Manfaatkan COVID-19, Israel dan India Perluas Proyek Kolonial Pemukiman

Pembangunan Rumah di Permukiman Efrat - minanews.netPembangunan Rumah di Permukiman Efrat - minanews.net

NEW DELHI/TEL AVIV – Kalimat ‘jangan biarkan krisis menjadi sia-sia’ tampaknya berkumandang dengan keras di telinga dan . Kedua , seperti diberitakan TRT World, ditengarai memanfaatkan pandemi COVID-19 untuk memperluas proyek kolonial pemukiman mereka di wilayah yang diduduki atau disengketakan dan yang menentang hukum .

Bulan lalu, pemerintah Netanyahu-Gantz mengisyaratkan niatnya untuk meresmikan aneksasi atas Tepi Barat yang diduduki dengan mengajukan RUU yang akan disahkan oleh Knesset pada 1 Juli. Sebuah langkah yang sekarang sepertinya didukung AS, dengan Sekretaris Negara, Mike Pompeo, baru-baru ini mengatakan kepada wartawan bahwa itu ‘keputusan Israel’. “Kami menyerukan semua Knesset dari partai-partai nasional untuk mendukung undang-undang ini, untuk memajukan kedaulatan dan mencegah pembentukan negara Palestina,” kata Ketua Dewan Yesha, David Elhayani.

Tidak diragukan lagi, tindakan Israel untuk segera mencaplok tanah Palestina didorong oleh kepercayaan bahwa masyarakat internasional terlalu terganggu oleh pandemi COVID-19. Selain itu, juga didorong kekhawatiran yang sebenarnya bahwa Donald Trump mungkin akan kalah pada pemilihan presiden AS bulan November mendatang.

Menteri Pertahanan Israel Naftali Bennett, dalam akun Twitter-nya sempat menuliskan, momentum pembangunan di negara itu tidak boleh dihentikan, bahkan untuk sedetik pun. Bennett merujuk pada keputusan pemerintah untuk mengotorisasi pembangunan 7.000 unit rumah tambahan di permukiman Efrat, yang dimaksudkan untuk menyangkal hak dasar warga Palestina, yang sebenarnya sah menurut PBB.

Sementara, di Selatan, India telah mengambil langkah pertama menuju replikasi model kolonial Israel di wilayah yang disengketakan, Kashmir, lokasi pasukan keamanan India memerintah atas kehidupan 8 juta Muslim. Bulan lalu, New Delhi mengeluarkan serangkaian hukum baru untuk Kashmir, termasuk hak domisili warga negara India, membuka jalan bagi tentara dan keluarga mereka, atau khususnya mereka yang telah tinggal di wilayah itu selama 15 tahun atau lebih, untuk membeli dan memiliki properti.

“Seharusnya, bukan rahasia bagi siapa pun bahwa Pemerintah Partai Bharatiya Janata ingin melakukan apa yang telah dilakukan Israel ke wilayah Palestina,” ujar seorang guru di Srinagar yang tidak bersedia namanya dipublikasikan. “Memberikan tanah, rumah, dan pekerjaan kepada tentara India dan keluarga mereka adalah cara pemerintah mencoba mengubah demografi di sini, tidak berbeda dengan apa yang telah dilakukan Israel di Tepi Barat.”

Motif New Delhi adalah untuk memfasilitasi dan mendorong ‘banjir demografis’, atau lebih tepatnya menjadikan mayoritas Muslim menjadi minoritas di tanah mereka, serta membunuh setiap peluang Kashmir untuk merdeka di masa depan. Ini mirip dengan langkah Israel yang telah membunuh prospek negara Palestina dengan memigrasi hampir satu juta pemukim Yahudi ke wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967.

Namun, dalam mencerminkan model Israel, India diperkirakan akan mengubah pos-pos militer menjadi pemukiman-pemukiman kecil. Pemukiman kecil tersebut lantas menjadi pemukiman besar, dan kemudian pemukiman besar ke kota-kota kecil, lengkap dengan pusat perbelanjaan, sekolah, fasilitas rekreasi, dan keamanan yang didukung militer 24 jam.

Untuk itu, India telah meningkatkan kegiatan militer di wilayah Kashmir sejak pandemi COVID-19 menyerang, termasuk memindahkan artileri berat ke lingkungan pemukiman dan desa-desa, digunakan sebagai pangkalan yang akan dipakai untuk menargetkan lokasi militer Pakistan dari posisi bunker sendiri. Ini secara efektif menggunakan penduduk lokal sebagai perisai manusia guna mencegah serangan balasan militer Pakistan.

“Jika kita tahu bahwa suatu hari mereka akan memasuki daerah ini juga dan menjadikan kita semua perisai manusia, kita tidak akan menginvestasikan hidup kita ke dalam rumah-rumah ini,” tutur seorang penduduk Desa Panzgam kepada Middle East Eye. “Kami menangis ketakutan. Anak-anak dan orang tua kami panik.”

Loading...