Tidak Tercatat Resmi, Krisis Pengangguran Menghantui Negara Asia Imbas COVID-19

Krisis Pengangguran Negara Asia - www.india.comKrisis Pengangguran Negara Asia - www.india.com

HONG KONG – Ketika pandemi COVID-19 menyerang dan tidak kunjung berakhir, tingkat di kawasan yang dilaporkan secara resmi memang menunjukkan angka yang stabil. Sayangnya, ini tidak memberikan gambaran yang lengkap, termasuk tidak menghitung mereka yang telah dipecat dan enggan mencari pekerjaan baru, berpotensi menciptakan di Benua Kuning.

“Tingkat resmi untuk sebagian besar ekonomi Asia relatif stabil,” tutur Rob Subbaraman, kepala penelitian ekonomi makro di Nomura, seperti dilansir Nikkei. “Namun, angka pengangguran saat ini tidak memberikan gambaran yang lengkap. Mereka yang kehilangan pekerjaan tetapi memilih untuk tidak mencari pekerjaan baru, tidak dihitung. Demikian pula pekerja lanjut usia yang memilih untuk pensiun imbas COVID-19.”

Subbaraman melanjutkan, sifat informal pasar tenaga kerja di beberapa negara berpenghasilan rendah di Asia dapat menyembunyikan tingkat pengangguran. Orang-orang Asia yang masih memiliki pekerjaan umumnya bekerja lebih sedikit, dengan upah lebih rendah daripada sebelum pandemi COVID-19. “Ini mungkin karena undang-undang perlindungan kerja yang lebih ketat dan faktor-faktor budaya, yang berarti bahwa pasar tenaga kerja Asia umumnya tidak se-fleksibel AS ketika berbicara tentang PHK,” tambahnya.

Di Hong Kong, pekerja setengah menganggur sekarang menjadi 135.100 orang pada Mei 2020, naik 185% dari Desember, sekaligus menjadi kenaikan paling tajam dalam catatan. Sementara, masyarakat Jepang yang dapat diklasifikasikan sebagai karyawan ‘tidak di tempat kerja’ naik pada bulan April ke rekor 6 juta, atau 8,8% dari angkatan kerja, dan dari 2,5 juta di bulan Maret.

Di negara-negara berpenghasilan rendah, ketika sebagian besar dipekerjakan di sektor informal, pengangguran tersembunyi tumbuh dan sebagian besar tidak dilacak oleh angka resmi. Sebagai , para migran yang telah kembali ke desa asal karena kesempatan kerja di perkotaan lenyap ketika pabrik-pabrik dan toko-toko tutup, masih dianggap sebagai pekerja meskipun mereka mungkin tidak aktif.

“Di China, tingkat pengangguran perkotaan resmi adalah 5,9% pada bulan Mei, tetapi diketahui sebagai penghitungan jumlah migran yang rendah,” papar Subbarman. “Sementara diperkirakan 90% pekerja migran telah kembali bekerja pada 30 April, itu masih berarti ada 30 juta yang ‘kehilangan pekerjaan’. Faktanya, kami memperkirakan bahwa hampir 48 juta pekerja berisiko kehilangan pekerjaan mereka di sektor jasa dan ekspor Tiongkok.”

Yang terburuk kemungkinan akan datang untuk pasar tenaga kerja Asia yang rapuh karena kemerosotan ekspor. Guncangan COVID-19 sangat menghancurkan layanan, mulai dari restoran dan hotel hingga perjalanan dan hiburan, yang menghadapi pemulihan yang lambat tetapi memiliki proporsi pekerjaan yang tinggi. Hanya masalah waktu sebelum banyak dari bisnis jasa ini harus memilih antara memotong pekerja atau menghadapi kebangkrutan.

“Dari perspektif manajemen risiko, para pembuat kebijakan Asia seharusnya memberikan lebih banyak dukungan langsung kepada perusahaan-perusahaan dalam bentuk keringanan pajak, subsidi atau hibah yang dikondisikan untuk menjaga pekerja tetap dalam daftar gaji, karena beberapa di kawasan ini, termasuk Singapura dan Hong Kong, sudah mulai melakukan,” sarannya. “Untuk negara-negara dengan sektor informal yang besar dan masalah pengangguran tersembunyi, terutama China, India, Indonesia, dan Filipina, pihak berwenang harus menawarkan lebih banyak dukungan langsung kepada tangga.”

Bank-bank sentral di Asia juga dapat memainkan peran yang lebih besar, dengan membeli obligasi korporasi dan memberi insentif kepada bank-bank komersial untuk mempertahankan pinjaman kepada usaha-usaha kecil. Bergerak lebih dalam ke kebijakan moneter yang tidak konvensional memang dapat menyebabkan nilai tukar yang lebih lemah, tetapi itu akan menjadi upaya kecil untuk mengurangi risiko tsunami pengangguran.

“Beberapa negara di Asia mulai menghargai urgensi. Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintah Jepang, Singapura, dan Korea Selatan telah mengumumkan paket stimulus fiskal tambahan yang lebih besar dari perkiraan, dengan fokus pada pelestarian pekerjaan,” ujar Subbaraman. “People’s Bank of China telah mengumumkan pendanaan tanpa bunga kepada bank-bank kecil untuk memberikan pinjaman kepada bisnis kecil. Mudah-mudahan, pemerintah lainnya di wilayah ini akan memperhatikan dan segera mengikuti untuk menghindari jatuh dari tebing pasar tenaga kerja.”

Loading...