Batasi Populasi, China Sterilisasi Paksa Wanita Muslim Uighur?

Ilustrasi: warga Uighur melakukan aksi protes kepada pemerintah China (sumber: saveuighurs.com)Ilustrasi: warga Uighur melakukan aksi protes kepada pemerintah China (sumber: saveuighurs.com)

BEIJING – beberapa waktu lalu membuat heboh setelah menuliskan dalam Twitter bahwa mereka telah ‘berhasil membuat tidak lagi menjadi mesin pembuat bayi’. Sontak saja, kicauan itu menuai kritik, dengan peneliti, akademisi, aktivis, dan masyarakat kompak menuduh Partai Komunis China mengambil tindakan kejam, termasuk aborsi paksa, adopsi, sterilisasi, dan IUD, untuk membatasi Uighur di wilayah Xinjiang.

“China bahkan tidak bisa menyembunyikan penghinaan genosida mereka terhadap wanita Uighur dengan merendahkan mereka sebagai ‘mesin pembuat bayi’, cuit CJ Werleman, seorang jurnalis, penulis, dan analis tentang konflik dan terorisme, seperti dilansir dari TRT World. “China telah membatasi populasi Uighur melalui pemisahan keluarga paksa, adopsi paksa, aborsi paksa, dan program sterilisasi paksa!”

China menyatakan bahwa mereka hanya membuat ‘tindakan kontrasepsi yang efektif dan tepat’ tersedia untuk keluarga Uighur. Menurut satu laporan, ‘ekstremisme telah menghasut orang untuk menolak keluarga berencana’ dan penurunan populasi Uighur bukan karena ‘sterilisasi paksa’ tetapi lebih kepada ‘emansipasi’.

Tweet itu dibantah oleh ribuan pengguna Twitter, dan banyak di antaranya menyebut praktik tersebut sebagai bentuk ‘genosida’. Banyak pengguna yang meminta Twitter untuk melabeli tweet tersebut dengan peringatan atau menghapusnya. Menurut laporan terbaru, pihak Twitter telah menghapus kicauan kontroversial yang ditulis oleh Kedutaan Besar China tersebut.

Sejak 1949, atau berdirinya Republik Rakyat China, pemerintah telah melakukan serangkaian kampanye di wilayah Xinjiang, termasuk menargetkan apa yang oleh negara disebut sebagai populasi Uighur yang ‘berlebihan’. Upaya ini antara lain mencoba mengisi kembali wilayah dengan Han China melalui program pemukiman, dan mengiklankan prospek pernikahan dengan wanita Uighur. Pemerintah juga dituduh memaksa ribuan wanita Uighur untuk menikah dan/atau tinggal bersama pria Han dalam apa yang disebut program ‘pemerkosaan massal’.

Ilustrasi: warga Uighur dan militer China (sumber: psmag.com)
Ilustrasi: warga Uighur dan militer China (sumber: psmag.com)

Sementara sterilisasi secara historis jarang terjadi di wilayah Xinjiang, jumlahnya meningkat karena wanita Uighur ditawari prosedur ‘gratis’ dan ‘diancam dengan pengasingan’ jika mereka menolak. Analysis Report on Population Change in Xinjiang terbitan pemerintah Negeri Panda jelas membantah pernyataan ini, sambil mengaitkan penurunan populasi Muslim Uighur dengan ‘pemberantasan ekstremisme agama’.

Ekstremisme agama tidak dijelaskan dalam artikel yang menjelaskan laporan tersebut, tetapi bahkan memiliki nama tertentu, berpakaian dengan cara tertentu, serta praktik agama dan budaya dasar dianggap ‘ekstremis’ oleh pemerintah, dan telah dilarang dalam beberapa tahun terakhir. Investigasi AP pada tahun 2020 menemukan bahwa perempuan Uighur menjadi sasaran pemaksaan, pemeriksaan kehamilan rutin, IUD, sterilisasi, dan aborsi. “Meskipun penggunaan IUD dan sterilisasi telah menurun secara nasional, tetapi meningkat tajam di Xinjiang,” tulis laporan tersebut.

“Langkah-langkah pengendalian populasi didukung oleh penahanan massal, baik sebagai ancaman maupun sebagai hukuman. Memiliki terlalu banyak anak adalah alasan utama mengapa orang dikirim ke kamp penahanan, dengan orang tua dari tiga anak atau lebih dicabut dari keluarga mereka, kecuali mereka dapat membayar denda yang besar,” bunyi laporan itu. “Polisi menggerebek rumah, menakutkan para orang tua saat mereka mencari anak-anak yang tersembunyi.”

Banyak kesaksian perempuan mendukung laporan dari organisasi manusia dan lembaga penelitian. Zumret Dawut, yang menghabiskan waktu selama 2 bulan di apa yang disebut kamp interniran oleh komunitas internasional, menuturkan bahwa penghuni kamp kehilangan sebagian dari tubuh mereka, identitas mereka sebagai wanita. “Kami tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi, karena mereka memotong salah satu organ kami,” katanya.

Loading...