China Pesimis Deal Dagang, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

JAKARTA – gagal merangsek ke teritori hijau pada Selasa (19/11) sore ketika aset safe haven lebih diburu investor seiring dengan terbaru yang menyatakan bahwa China pesimistis soal mencapai kesepakatan dengan AS. Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 12 poin atau 0,9% ke level Rp14.091 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.091 per dolar AS, terdepresiasi 16 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.075 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,34% dialami won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS mencoba membalikkan kerugian pada hari Selasa di tengah kabar yang menyebutkan bahwa China bersikap pesimistis soal mencapai kesepakatan dagang dengan AS, yang akhirnya menaikkan pamor aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,043 poin atau 0,04% ke level 97,837 pada pukul 15.31 WIB.

Dilansir Reuters, sebelumnya, ada harapan yang tinggi bahwa AS dan China akan menandatangani apa yang disebut sebagai kesepakatan ‘fase satu’ untuk mengurangi tensi perang dagang selama 16 bulan. Namun, dolar AS kembali terpukul pada hari Senin (18/11) setelah CNBC melaporkan bahwa China pesimistis tentang kemajuan kesepakatan, yang lantas menaikkan permintaan yen Jepang.

“Dolar AS mencoba menembus di atas 109 yen, tetapi itu tidak bisa karena kekhawatiran tentang kesepakatan perdagangan,” kata ahli strategi valuta asing senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Pasar Treasury mulai mencerminkan keprihatinan yang sama tentang kurangnya kesepakatan perdagangan. Ini akan menjaga pergerakan dolar terhadap yen dalam kisaran yang sempit.”

Investor juga mewaspadai pergerakan greenback setelah Presiden AS, Donald Trump, bertemu dengan Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, di tengah-tengah kecaman presiden bahwa The Fed belum cukup menurunkan suku bunga. Dalam sebuah pernyataan, The Fed mengatakan ekspektasi Powell untuk kebijakan masa depan tidak dibahas, tetapi Trump menuduh The Fed merusak kebijakan ekonominya dengan mempertahankan suku bunga terlalu tinggi.

Loading...