HUT ke-70, China Pamer Rudal Balistik Antarbenua Tembus AS

Rudal Balistik China - wartakota.tribunnews.comRudal Balistik China - wartakota.tribunnews.com

BEIJING/TOKYO – Dalam parade untuk menandai peringatan Republik Rakyat ke-70, Selasa (1/10) kemarin, Negeri Panda memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dikatakan mampu mencapai AS dengan 10 hulu ledak. Dengan jangkauan jarak 12.000 km hingga 15.000 km, rudal bernama Dongfeng-41 atau DF-41 tersebut melakukan debut bersamaan dengan peluncur hipersonik Dongfeng-17 (DF-17) dan drone pengintai supersonik DR-8.

Dilansir Nikkei, kemampuan nuklir militer China, sebanyak 290 hulu ledak, sebelumnya telah dikalahkan oleh AS, yang memiliki 6.185 hulu ledak pada Januari 2019, menurut perkiraan oleh Stockholm Peace Research Institute. Namun, peluncuran produk terbaru seperti DF-41, dapat memacu Negeri Tirai Bambu untuk memperluas gudang senjata mereka.

Parade ini juga berusaha memamerkan langkah cepat Beijing menuju persaingan dengan Washington dalam perang konvensional, dengan jet tempur siluman J-20 dan tanker pengisian bakar udara H-6U yang terbang di atas kepala. Tiongkok sendiri sebagian besar mengikuti jejak AS dalam penumpukan militernya, termasuk merestrukturisasi pasukan darat, laut, dan udara yang terpisah menjadi kekuatan bersama dengan struktur komando regional dalam beberapa tahun terakhir.

J-20 dikatakan telah dikembangkan dengan menggunakan teknologi rahasia yang ‘dicuri’ dari militer Amerika Serikat melalui peretasan. Lima jet terbang dalam formasi di parade, menunjukkan bahwa massal sedang berlangsung. Namun, banyak analis di AS dan Jepang mengatakan tidak mungkin untuk mengetahui bagaimana kemampuan jet-jet itu tanpa melihat mereka dalam pertempuran nyata. Kinerja pesawat tempur siluman bergantung pada kemampuan mereka, dan masih banyak yang tidak jelas tentang J-20.

Parade ini pun menampilkan teknologi baru yang dipandang sebagai ‘pengubah permainan’ untuk peperangan modern. Salah satu contohnya adalah DF-17, senjata hipersonik yang dapat mengubah jalurnya setelah memasuki kembali atmosfer untuk menghindari sistem pertahanan rudal AS. Sebelumnya, Negeri Paman Sam dan Rusia berebut untuk mengembangkan senjata yang sama, tetapi telah berspekulasi bahwa China sudah mengalahkan mereka.

Beijing juga menampilkan sederetan kendaraan tak berawak, termasuk drone Sharp Sword. Sebelumnya, AS menggunakan banyak pesawat tak berawak untuk menyerang sasaran teroris, dan China berupaya mengejar ketinggalan mereka menggunakan teknologi yang memungkinkan kawanan drone untuk bertindak bersama.

Kemajuan lain yang dipamerkan termasuk kendaraan perang yang mampu mengganggu musuh dan rudal ‘carrier killer’ yang dikatakan memiliki sistem penargetan yang sangat tepat. Tampilan pada kinerja rudal itu beragam, tetapi jika seakurat yang diperkirakan, itu dapat membatasi kemampuan kelompok militer AS untuk bertindak di wilayah tersebut jika terjadi konflik.

“Orang-orang China berhasil berdiri di atas kaki mereka dan memulai perjalanan besar peremajaan nasional,” ujar Presiden XI Jinping dalam pidatonya usai upacara pengibaran bendera, dilansir Russia Today. “Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang-orang China dan bangsa China untuk terus bergerak maju.”

Loading...