China ‘Invasi’ Kamboja Lewat Dukungan Ekonomi

China ‘Invasi’ Kamboja Lewat Dukungan Ekonomi - asia.nikkei.com

HONG KONG/PHNOM PENH – Kehadiran dalam konstelasi ekonomi Kamboja, terutama untuk publik, memang membawa dampak bagi salah satu negara di Tenggara tersebut. Sayangnya, di lain sisi, ada konsekuensi yang harus dibayarkan Kamboja mengenai ‘kedekatan’ hubungan mereka dengan Negeri Tirai Bambu.

China di Kamboja telah menciptakan banyak kesempatan kerja. Dewan Pembangunan Kamboja mengatakan bahwa China telah menjadi sumber terbesar untuk asing langsung sejak tahun 2011, dengan total kumulatif 4,9 miliar AS selama periode hingga awal Desember 2016. Bangunan baru tampak di mana-mana, dan dananya mayoritas disuntik China.

Salah satu proyek paling penting adalah One Park, atau Phnom Penh No. 1, sebagai kompleks komersial dan perumahan. Pemimpin proyek ini adalah Graticity Real Estate Development, pengembang yang berbasis di Beijing. Tahap pertama proyek dibangun pada 7,9 hektare lahan reklamasi yang pernah tertutup Danau Boeung Kak. Total biaya proyek tidak diketahui, tetapi biaya konstruksi saja menghabiskan 130 juta dolar AS, menurut China State Construction Engineering Corp, yang memenangkan kontrak.

Selain real estate, investasi China di Kamboja juga menjangkau jembatan dan jalan. Pada 6 Maret 2017 lalu, Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, dan Duta Besar China untuk Kamboja, Xiong Bo, bersama dengan sekitar 600 penduduk setempat menjadi saksi peletakan batu pertama untuk bagian barat proyek jalan lingkar No. 2.

“Terima kasih untuk semua bantuan (China),” kata Hun Sen kepada delegasi bisnis dari China pada 1 Desember lalu. “Saya dapat mengatakan bahwa persaudaraan dengan China telah membantu membangun jalan terpanjang, panjang sekitar 1.500 kilometer, dan tujuh jembatan dengan total panjang sekitar 3.104 meter.”

Kehadiran China di industri energi Kamboja juga berkembang. Chinese Chamber of Commerce, yang bertindak atas perintah Beijing, menggebrak pameran Royal University of Phnom Penh selama dua minggu, yang bertujuan untuk memamerkan otot ekonomi Negeri Panda.

Kantor berita Cina, Xinhua, mengatakan bahwa Menteri Pertambangan dan Energi Kamboja, Suy Sem, yang menghadiri acara tersebut, mengucapkan terima kasih kepada Beijing yang berinvestasi sekitar 2,4 miliar dolar AS untuk tujuh pembangkit listrik selama dekade terakhir. Pemadaman memang masih terjadi, tetapi total pasokan listrik telah melonjak dari 180 Megawatt pada tahun 2002 menjadi lebih dari 2.000 MW tahun lalu.

Kegiatan bisnis China ini sejalan dengan inisiatif pembangunan luar negeri yang dicetuskan Beijing. Menurut Duta Besar Xiong Bo, pada konferensi dagang November lalu, perusahaan harus bekerja untuk memperdalam hubungan ekonomi dan dan berkontribusi secara proaktif untuk memperkuat basis strategis aliansi ekonomi. Mengambil isyarat dari Beijing, perusahaan China yang dipimpin Minsheng Investment Group tiba di Kamboja pada Desember 2016 untuk melakukan investasi di industri di pinggiran Phnom Penh dan mengatur dana infrastruktur senilai beberapa ratus juta dolar AS.

Namun, China tidak menawarkan Kamboja ‘makan siang secara gratis’. Seiring dengan persetujuan baru dukungan ekonomi Beijing untuk Phnom Penh, yang ditandatangani Presiden China, Xi Jinping, dan Hun Sen, pada Oktober lalu, menyatakan bahwa mereka telah sepakat untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kemitraan dalam berbagai kerangka multilateral, termasuk menawarkan dukungan kuat untuk satu sama lain.

Beijing sendiri telah menganggap Kamboja sebagai bagian tak terpisahkan dari ‘string of pearls’ strategi maritim yang menghubungkan Hong Kong ke Sudan melalui Samudera Hindia. Sihanoukville, pelabuhan terbesar di Kamboja, adalah salah satu ‘mutiara’ di sepanjang jalur ini. Lebih dari sebelumnya, Beijing akan mengharapkan negara jatuh sejalan dengan agendanya.

Loading...