Kasus Virus Corona, China Ingin ASEAN Longgarkan Pembatasan Perjalanan

Wang Yi, Menteri Luar Negeri China - www.scmp.comWang Yi, Menteri Luar Negeri China - www.scmp.com

VIENTIANE/BEIJING – Sejumlah negara belum lama ini telah memberlakukan pembatasan bagi pelancong asal sebagai upaya untuk mengekang penyebaran virus corona. Pada pertemuan Kamis (20/2) kemarin, pemerintah Negeri Panda meminta anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa untuk melonggarkan kebijakan tersebut, karena sudah berdampak buruk pada negara.

Seperti diberitakan Nikkei, dalam meeting tersebut, para menteri ASEAN sepakat untuk berbagi informasi tentang dan metode pengendalian epidemi dan mempromosikan pengembangan bersama, menurut sebuah pernyataan yang dirilis setelah pertemuan di Vientiane. Mereka juga berjanji untuk ‘melanjutkan dan meningkatkan pertukaran dan kerja sama’, tergantung pada ‘kemajuan pencegahan dan pengendalian epidemi’.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, yang ikut memimpin pertemuan, memuji kemajuan dalam perang melawan wabah di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, mencatat penurunan dalam kasus-kasus yang baru terdeteksi. Dengan kemajuan ini, ia berharap negara ASEAN dapat melonggarkan izin terhadap warga China yang hendak bepergian karena pelarangan sebelumnya sudah berdampak substansial terhadap ekonomi Tiongkok.

Blok ASEAN, mitra dagang terbesar kedua China, setidaknya secara lahiriah menunjukkan keinginan untuk bekerja sama dengan Beijing, suatu keharusan mengingat kedekatan geografis dan ekonomi negara-negara anggota dengan Negeri Tirai Bambu. Namun, tingkat antusiasme terhadap ide tersebut sangat bervariasi.

Indonesia, yang telah melarang masuk warga negara asing yang telah ke China dalam dua minggu sebelumnya, mengakui perlunya kerja sama yang lebih erat. Meski demikian, apakah pemerintah akan setuju untuk mengurangi pembatasan perjalanan dalam waktu dekat, masih belum jelas. “Pentingnya berbagi informasi tentang evakuasi warga negara ASEAN dari titik-titik endemik di setiap bagian dunia,” kicau Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dalam akun Twitter-nya.

Negara-negara lain di ujung spektrum yang ketat, termasuk Singapura, juga telah memberlakukan larangan bagi pemegang paspor Tiongkok. Sebaliknya, beberapa anggota ASEAN yang menempatkan prioritas lebih tinggi pada hubungan dengan Beijing, menerapkan kebijakan dengan pembatasan yang lebih longgar, atau tidak ada sama sekali.

Dalam pertemuan tatap muka hari Rabu (19/2) dengan Wang, Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai, menyatakan keyakinannya bahwa acara hari Kamis akan berkontribusi pada kesehatan masyarakat di wilayah tersebut dan sekitarnya. Thailand sendiri tidak membatasi masuknya wisatawan China, yang mencapai rekor 11 juta kunjungan tahun lalu, karena kepedulian terhadap industri pariwisata.

Kamboja, yang telah menjalin hubungan erat dengan China, juga memilih menentang pembatasan perjalanan. Negara itu mengizinkan penumpang dari kapal pesiar Westerdam untuk turun di sana setelah ditolak oleh lima pelabuhan lain karena kekhawatiran akan wabah coronavirus. Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, juga merupakan pemimpin asing pertama yang mengunjungi Beijing sejak wabah menyebar.

Pemerintah China sendiri diperkirakan akan menunda Kongres Rakyat Nasional yang dijadwalkan berlangsung bulan depan, dan langkah-langkahnya untuk mengatasi virus tersebut bertemu dengan keprihatinan publik yang semakin besar. Pujian asing atas tanggapan China akan memberi Beijing sesuatu untuk meyakinkan rakyatnya serta mengurangi rasa isolasi negara itu.

Loading...