China Beli Kedelai AS, Rupiah Berakhir Menguat Tajam

Rupiah - ekbis.sindonews.comRupiah - ekbis.sindonews.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada Kamis (13/12) sore, seiring gerak kurs lainnya, didukung optimisme kesepakatan perdagangan antara AS dan China. Menurut Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melonjak 101 poin atau 0,69% menuju level Rp14.497 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.536 per dolar AS, menguat 41 poin atau 0,28% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.577 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia kompak mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,56% dialami rupiah, disusul rupee India yang terapresiasi 0,53%.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya masih bergerak lebih tinggi pada hari Kamis, didorong pergerakan imbal hasil Treasury AS yang stabil, setelah kemarin (12/12) sempat melemah akibat inflasi November 2018 yang dilaporkan melambat. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,051 poin atau 0,05% ke level 97,095 pada pukul 11.20 WIB.

Menurut paparan Bloomberg, mata uang Asia bergerak naik meski indeks dolar AS juga masih perkasa, salah satunya didukung optimisme kesepakatan perdagangan antara AS dan China. Negeri Tirai Bambu dikabarkan akan melakukan pembelian kedelai dari Negeri Paman Sam dengan yang cukup besar sejak kedua negara memulai serangkaian perang tarif.

Di sisi lain, greenback masih mempertahankan posisi di zona hijau setelah kemarin sempat berakhir melemah. Pelemahan yang dialami greenback imbas laporan inflasi bulan November 2018 yang melambat menjadi 2,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menjadi laju paling lambat dalam kurun waktu sembilan bulan, karena menurunnya pengeluaran untuk bahan bakar dan energi.

“Ketakutan pada awal tahun ini mengenai meningkatnya laju inflasi ternyata belum menjadi kenyataan,” ujar ahli strategi investasi senior di Wells Fargo Asset Management, Brian Jacobsen, seperti dilansir Financial Times. “Tren yang mendasari relatif tidak berubah, dan ada sedikit bukti bahwa The Fed harus menyimpang dari pendekatan yang lambat untuk melakukan percepatan.”

Loading...