Hadapi Sanksi Barat, China Bangun Aliansi dengan Negara Timur Tengah

Ilustrasi: diplomasi China dengan negara Timur Tengah (Al Jazeera)Ilustrasi: diplomasi China dengan negara Timur Tengah (Al Jazeera)

BEIJING – Pemerintah saat ini tengah mencari aliansi baru dengan negara-negara di kawasan ketika dari Barat membayangi, imbas dugaan pelanggaran manusia kepada Muslim di wilayah Xinjiang. Sejumlah negara yang sedang didekati Negeri Tirai Bambu antara lain Arab Saudi, , Iran, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.

Seperti diwartakan South China Morning Post, memulai tur selama seminggu sejak Rabu (24/3) kemarin, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengatakan bahwa pihaknya akan memprioritaskan hubungannya dengan Timur Tengah dalam upaya mencari dukungan dan pengaruh yang lebih besar di kawasan itu. Ia juga diharapkan untuk mempertimbangkan masalah nuklir Iran dan berusaha memperluas aliansi.

“Menteri luar negeri akan bertujuan untuk memperluas lingkaran pertemanan China dan meningkatkan hubungan dengan negara-negara ini,” ujar Hua Liming, mantan duta besar China untuk Iran. “China ingin mengirimkan pesan yang jelas kepada AS bahwa mereka tetap menjadi pemain kunci dalam masalah nuklir Iran dan bahwa tidak mungkin menemukan solusi tanpa keterlibatan China.”

Perjalanan itu dilakukan setelah Wang dan diplomat top China, Yang Jiechi, bertukar pikiran dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dan penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, selama pembicaraan di Alaska. Terlepas dari perbedaan mereka yang dalam, Blinken mengatakan bahwa belah pihak memiliki kepentingan yang bersilangan tentang Iran, Korea Utara, Afghanistan, dan perubahan iklim.

Wang akan menjadi pejabat China paling senior yang melakukan perjalanan ke Iran sejak Presiden Xi Jinping pada tahun 2016, dan itu terjadi ketika upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran terhenti. “China memainkan peran kunci dalam memotong kesepakatan tahun 2015 dengan Iran dan telah cukup kooperatif dengan AS dalam masalah nuklir,” sambung Hua.

Ilustrasi: diplomasi China dan Timur Tengah (sumber: thediplomat.com)
Ilustrasi: diplomasi China dan Timur Tengah (sumber: thediplomat.com)

China sebelumnya menandatangani pakta dengan Iran, bersama dengan AS, Inggris, Rusia, Prancis, dan Jerman, tetapi Washington meninggalkannya pada tahun 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. Presiden AS sekarang, Joe Biden, mengatakan mereka akan bergabung kembali jika Iran kembali ke komitmennya berdasarkan perjanjian. Namun, Teheran bersikeras bahwa Washington mengambil langkah pertama dengan mencabut sanksi.

“Wang tidak hanya mencoba menengahi hubungan Teheran dan Washington, tetapi juga antara Iran dan negara-negara Arab. Dia berbicara tentang membangun dialog multilateral di kawasan Teluk untuk menyelesaikan perbedaan,” tutur Yin Gang, seorang ahli urusan Timur Tengah di Chinese Academy of Social Sciences. “Ini semua adalah hal yang sulit untuk dicapai, tetapi perjalanan Wang adalah tentang mengatakan bahwa China sedang berupaya mengatasi masalah ini.”

Perjalanan itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara sekutu Barat dan Beijing setelah AS, , Kanada, dan Inggris memberikan sanksi kepada China atas pelanggaran etnis minoritas di Xinjiang, yang lantas dibalas Beijing dengan sanksi terhadap pejabat . “China mungkin mencari front persatuan melawan sanksi Barat dengan negara-negara yang sama-sama tidak senang,” kata Shi Yinhong, pakar hubungan di Universitas Renmin di Beijing.

“Wang juga dapat menggunakan perjalanan itu untuk memberi penghargaan kepada negara-negara di Timur Tengah yang telah mendukung kebijakan Beijing atas Xinjiang,” timpal Hua. “China sangat menghargai dukungan itu karena mendapat kecaman dari negara-negara Barat dan perjalanan Wang menjadi kesempatan bagus untuk membina hubungan yang lebih dekat.”

Sementara itu, Jonathan Fulton, asisten profesor humaniora dan ilmu sosial di Zayed University, mengatakan bahwa Beijing menanggapi langkah Washington. Menurutnya, pemerintahan Biden telah berkomitmen untuk bekerja dengan negara-negara yang berpikiran sama sehingga ada pendekatan yang lebih koheren ke China. “Perjalanan Wang menawarkan kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan negara-negara yang memiliki kepedulian terhadap China tentang arah kebijakan luar negeri Presiden Biden,” tutur Fulton.

Loading...