China-AS Bakal Bahas Isu Perang Dagang, Rupiah Dibuka Menguat Terhadap USD

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 34 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp 14.753 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (15/11). Kemarin, Rabu (14/11) mata uang Garuda ditutup terapresiasi 18 poin atau 0,12 persen ke level Rp 14.787 per USD setelah diperdagangkan pada rentang angka Rp 14.739 hingga Rp 14.783 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,51 persen menjadi 96,8025 pada pukul 20.00 GMT usai Inggris dan Uni Eropa mencapai kesepakatan terkait rancangan perjanjian Brexit.

Pound sterling dilaporkan menguat pada perdagangan Rabu usai Perdana Menteri Inggris Theresa May menerima dukungan kabinetnya untuk rancangan kesepakatan Brexit, namun ia saat ini harus meminta parlemen untuk menyetujui perjanjian tersebut. May memuji kesepakatan Brexit yang dirancang dengan Uni Eropa, namun kini mendapat permusuhan terbuka dari sejumlah anggota partainya sendiri di parlemen. “Ini akan menjadi pertempuran melalui parlemen,” ujar Presiden dunia di TIAA Bank Chris Gaffney, seperti dilansir Okezone.

Menurut Moody’s Investors Service, perjanjian macam itu positif, namun akan menghadapi rintangan yang cukup signifikan. Masih belum diketahui apakah May mendapatkan suara yang cukup di parlemen untuk menyetujui rancangan draft Brexit yang mencakup kesepakatan terkait pengurangan akses ke pasar blok ekonomi tersebut.

Menurut Direktur Garuda Berjangka Ibrahim, rupiah banyak memperoleh sentimen positif dari China. Pasalnya China berencana membahas soal perang dagang dengan Amerika Serikat. “Kunjungan Wakil Perdana Menteri China Liu He ke AS dapat meredakan ketegangan jelang pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping pada KTT G-20,” ujar Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, turunnya harga minyak mentah yang sekarang ada di bawah level USD 60 per barel juga menurut Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro telah memberi suntikan energi bagi rupiah sehingga turut mengoreksi dolar AS. Akan tetapi, walaupun rupiah terus bergerak di zona hijau, hari ini kemungkinan akan menjadi posisi yang rawan bagi rupiah. Pasalnya Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis Oktober 2018. Satria memperkirakan jika neraca dagang defisit USD 306 juta dolar AS lantaran kinerja turun, sedangkan angka justru meningkat.

Loading...