CEO Showa Shell: Pemotongan Produksi Bisa Angkat Kembali Harga Minyak

TOKYO – minyak mentah saat ini masih berada pada level 50 AS per barel. Kebijakan Presiden AS, Donald Trump, terutama terhadap Israel dan Iran, menjadi salah satu minyak mengalami penurunan, selain tingginya pasokan. Namun, dengan pemotongan produksi yang dilakukan beberapa negara, dapat menahan minyak agar tidak semakin terpuruk.

“Harga minyak sempat menyentuh level 100 dolar AS per barel selama tiga setengah tahun sejak 2011, namun turun tajam pada paruh kedua 2014 karena produksi yang tinggi di Amerika Utara,” ujar CEO Showa Shell Sekiyu, Tsuyoshi Kameoka. “Berbeda dengan penurunan tajam ketika krisis global yang dipicu runtuhnya Lehman Brothers Holdings, penurunan terbaru ini lebih disebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan .”

Menurut International Energy Agency, pada Januari lalu, produsen minyak sepakat untuk memotong produksi. Hal ini karena mereka menghadapi krisis keuangan sebagai dampak langsung dari jatuhnya harga minyak. IMF memperkirakan Arab Saudi dan Qatar memerlukan harga minyak masing-masing sekitar 80 dolar AS per barel dan 60 dolar AS per barel untuk mencapai keseimbangan fiskal.

Ditambahkan Kameoka, permintaan minyak meningkat karena pemulihan ekonomi , yang dipimpin oleh AS. Pada dasarnya, harga minyak diperkirakan akan terus meningkat, tetapi kemudian terbalik karena kelebihan pasokan. “Untuk saat ini, level 60 dolar AS per barel akan berfungsi sebagai level resistance karena produksi akan meningkat ketika harga naik di atas itu,” sambungnya.

“Kebijakan pemerintahan Trump juga memengaruhi harga minyak, kemungkinan karena peningkatan risiko geopolitik, terutama terhadap Israel dan Iran,” lanjut Kameoka. “Di sisi lain, apresiasi dolar AS baru-baru ini dan peningkatan pengembangan energi melalui pelonggaran peraturan juga berpotensi menciptakan tekanan pada harga minyak.”

Sementara itu, mengenai perkembangan kendaraan tenaga yang kini juga semakin booming, menurut Kameoka bahwa hal tersebut juga dapat membuat permintaan minyak drop di masa depan. Bahkan, jika AS menarik diri dari Perjanjian Paris untuk perubahan iklim, tren global menuju perlindungan lingkungan diyakini tetap tidak akan berubah.

“Tetapi, penggunaan kendaraan bermotor dengan bahan bakar gasoline maupun diesel diperkirakan masih akan meningkat di negara-negara berkembang,” imbuh Kameoka. “Kecuali, pertumbuhan ekonomi dunia berhenti, permintaan akan minyak akan terus berkembang.”

Loading...