Hizbullah: Caesar Act AS Bikin Suriah dan Lebanon Kelaparan

Hassan Nasrallah, Pemimpin gerakan gerilyawan Hizbullah - www.jns.orgHassan Nasrallah, Pemimpin gerakan gerilyawan Hizbullah - www.jns.org

DAMASKUS – Pemimpin gerakan gerilyawan Hizbullah, Hassan Nasrallah, mengatakan bahwa sanksi baru AS terhadap pemerintah Suriah bertujuan untuk membuat negara tersebut serta Lebanon kelaparan. Nasrallah juga menuduh pemerintahan Donald Trump merekayasa keruntuhan mata uang Suriah, sembari bersumpah ia akan tetap mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad.

“Undang-Undang Caesar bertujuan untuk membuat kelaparan Lebanon seperti halnya bertujuan untuk membuat kelaparan Suriah,” kata Nasrallah dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi, dilansir France24. “Suriah telah memenangkan secara , dalam hal dan politik. Undang-undang itu adalah ‘ terakhir’ Washington melawan Damaskus.”

Caesar Syria Civil Protection Act menargetkan perusahaan-perusahaan yang berurusan dengan rezim Presiden Bashar al-Assad, termasuk Hizbullah, Teheran, dan Moskow. Aturan ini memberlakukan pembatasan pada pemerintah Damaskus untuk memaksanya menghentikan ‘serangan terhadap rakyat Suriah’, dan diharapkan untuk pertama kalinya menargetkan entitas Rusia dan Iran yang aktif di Suriah.

Pemerintah Suriah dan pengusaha loyalis sendiri sudah menjadi sasaran sanksi AS dan Eropa. Setelah sembilan tahun perang yang menelan korban lebih dari 380.000 jiwa, Suriah terperosok dalam krisis yang diperparah oleh kuncian coronavirus dan krisis likuiditas AS di Lebanon, saluran utama bagi yang dikuasai rezim.

Sebagian besar populasi Suriah hidup dalam kemiskinan, harga telah melonjak, dan nilai tukar mata uang telah mencapai rekor terendah terhadap dolar AS di pasar gelap. “Sekutu Suriah, yang berdiri di sisinya selama perang, tidak akan meninggalkan Suriah dalam menghadapi perang ekonomi dan tidak akan membiarkan kejatuhannya, bahkan jika mereka sendiri sedang melalui keadaan sulit,” tambah Nasrallah.

Seperti diketahui, Lebanon juga mengalami krisis keuangan terburuk sejak berakhirnya perang saudara 1975-1990, serta diguncang oleh protes anti-pemerintah selama berbulan-bulan. Nasrallah mengatakan bahwa orang Amerika telah menekan Bank Lebanon untuk mencegahnya memasukkan cukup dolar AS ke pasar. “Washington hanya menggunakan klaim bahwa Hizbullah mengirim dolar AS ke Suriah sebagai alasan,” sambung Nasrallah.

AS sendiri pada Selasa (16/6) memperingatkan Assad bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan kemenangan penuh dan harus mencapai kompromi politik. Kelly Craft, duta besar AS untuk PBB, mendesaknya untuk menerima resolusi Dewan Keamanan yang menyerukan gencatan senjata, pemilihan umum, dan transisi politik bersama dengan pembicaraan yang dipimpin PBB.

Loading...