Cadangan Devisa Turun, Rupiah Tetap Berakhir Menguat

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Rupiah akhirnya bertahan di zona hijau pada Rabu (7/4) sore meskipun Indonesia bulan Maret 2021 dilaporkan mengalami sedikit penurunan lantaran untuk membayar utang . Menurut data Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.495 per dolar AS.

Pagi tadi, melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2021 sebesar 137,1 miliar dolar AS, sedikit turun dibandingkan Februari 2021 yang tercatat 138,8 miliar dolar AS. Penurunan posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi utang luar negeri pemerintah yang sesuai pola jatuh tempo pembayarannya.

“Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,1 bulan atau 9,7 bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan ,” jelas Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono. “Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung stabilitas dan prospek yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan .”

Sebelumnya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, telah memprediksi bahwa cadangan devisa Indonesia akan turun. Menurutnya, penurunan cadangan devisa tak lepas dari keluarnya arus modal asing di sepanjang bulan Maret 2021 akibat spread antara US Treasury dan Surat Berharga Negara (SBN) mengecil yang juga akhirnya melemahkan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, dari pasar global, dolar AS bergerak lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang pada hari Rabu, setelah imbal hasil obligasi AS turun saat para pedagang membatalkan ekspektasi agresif bahwa Federal Reserve akan memperketat kebijakannya lebih awal dari yang dijanjikan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,006 poin atau 0,01% ke level 92,329 pada pukul 11.26 WIB.

“Kuartal sebelumnya, dolar AS mendapat dorongan dari pelimpahan Senat di Georgia, paket bantuan virus corona pemerintahan Joe Biden, dan kemudian rencana infrastruktur,” kata ahli strategi mata uang senior di Barclays, Shinichiro Kadota, dilansir Reuters. “Kuartal ini, kami kehabisan tema besar dan pasar akan melihat fundamental ekonomi. Kami memperkirakan greenback akan tetap kuat, tetapi tidak mungkin naik sebanyak yang terjadi pada kuartal lalu.”

Loading...