Cadangan Devisa Indonesia Ambles, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah dan Dolar - sindonews.comRupiah dan Dolar - sindonews.com

JAKARTA – makin tergerus ke teritori merah pada Jumat (6/2) sore setelah Bank melaporkan bahwa dalam negeri melorot cukup dalam sepanjang Februari 2020 kemarin. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 68 poin atau 0,43% ke level Rp14.243 per dolar AS.

Siang tadi, Bank Indonesia mengumumkan bahwa cadangan devisa dalam negeri per akhir Februari 2020 tercatat sebesar 130,4 miliar dolar AS, angka ini turun 1,3 miliar dolar AS jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 131,7 miliar dolar AS. Penurunan cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Meski demikian, Bank Indonesia mengklaim cadangan devisa ini masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank sentral menuturkan, posisi cadangan devisa pada akhir Februari setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Utang luar negeri pemerintah sendiri, hingga akhir tahun lalu mencapai 199,97 miliar dolar AS, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 177,38 miliar dolar AS. Secara keseluruhan, total utang luar negeri Indonesia hingga akhir tahun 2019 tercatat 404,3 miliar dolar AS, naik 7,7% dari posisi per akhir 2018 yang sebesar 375,43 miliar dolar AS.

Sementara itu, dari global, indeks dolar AS masih belum mampu keluar dari area merah karena terjunnya imbal hasil Treasury AS ke rekor terendah menghapus daya tarik tunggal mata uang ini bagi investor. Mata uang Paman Sam terpantau terdepresiasi cukup dalam, 0,284 poin atau 0,29% ke level 96,536 pada pukul 11.26 WIB.

Ketakutan yang meningkat atas dampak dari coronavirus telah mendorong perubahan tektonik untuk suku bunga AS, karena pasar bertaruh bahwa Federal Reserve harus memotong suku bunga sebesar 50 basis poin untuk kedua kalinya bulan ini. Jatuhnya hasil imbal hasil Treasury, yang turun 10 basis poin di , telah menjadi kematian dari salah satu carry trade yang paling populer secara global.

“Nilai tukar dolar AS terhadap euro berubah karena ada perubahan dramatis dan menentukan dalam ekspektasi tingkat suku bunga The Fed,” kata kepala global strategi G10 FX di Deutsche Bank, Alan Ruskin. “Dolar AS telah kehilangan satu-satunya sumber terpenting dari over-valuasinya dan ini bisa mengakhiri tren naik yang telah berlangsung sejak pertengahan 2018.”

Loading...