Cadangan Devisa Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Dibuka Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (10/8) pagi - sindonews.com

mampu ke zona hijau pada awal perdagangan Senin (10/8) pagi, didukung laporan cadangan yang mencapai posisi tertinggi. Menurut data Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka dengan menguat 25 poin atau 0,14% ke level Rp14.600 per dolar . Namun, spot langsung kembali melemah 35 poin atau 0,24% ke posisi Rp14.660 per dolar pada pukul 09.07 WIB..

Posisi cadangan devisa Indonesia pada Juli 2020 tercatat mencapai angka 135,1 miliar dolar AS, meningkat dari 131,7 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Lonjakan ini menjadikan cadangan devisa bulan kemarin menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah, mengalahkan rekor tertinggi 131,98 miliar dolar AS pada Januari 2020 lalu.

“Pada pekan ini, rupiah bisa bergerak ke zona hijau seiring dengan sentimen positif dari data cadangan devisa Indonesia yang mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, disalin dari Bisnis. “Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi bergerak dalam rentang Rp14.590 hingga Rp14.670 per dolar AS.”

Sementara itu, dari global, pada Jumat waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa perekonomian negara tersebut menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian, dikenal dengan istilah nonfarm payrolls atau NFP, sebanyak 1,763 juta orang sepanjang Juli 2020, lebih baik dari perkiraan sebanyak 1,53 juta orang. Sementara, tingkat pengangguran turun tajam 10,2% dari sebelumnya 11,1%.

Tidak hanya itu, rata-rata gaji per jam juga mengalami kenaikan 0,2% pada bulan kemarin, setelah menurun dalam 2 bulan beruntun. Kembali naiknya rata-rata gaji berpeluang meningkatkan belanja konsumen atau belanja rumah tangga yang merupakan tulang punggung perekonomian AS, berkontribusi sekitar 70% terhadap produk domestic bruto (PDB) AS.

“Laporan Juli menegaskan bahwa kebangkitan kasus coronavirus menyebabkan pemulihan ekonomi melambat, tetapi juga menggarisbawahi bahwa itu belum berbalik,” kata ekonom senior AS di Capital Economics, Andrew Hunter, dilansir CNBC. “Dengan infeksi baru sekarang cenderung menurun dan indikator aktivitas frekuensi tinggi menunjukkan tanda tentatif dari kenaikan baru, lapangan kerja akan terus pulih selama beberapa bulan mendatang.”

Loading...