Cadangan Devisa Terkuras, Nilai Kurs Rupiah Bisa Makin Jatuh di 2016

Indonesia tercatat menurun paling banyak di antara emerging market di Asia pada tahun 2012 dan 2013. Pada tahun 2012 melemah 5,9 persen dan pada tahun 2013 menurun kembali 21 persen. Penyebab utamanya adalah pelemahan komoditas dan kebijakan moneter ketat yang memicu capital outflow dari -negara berkembang.

Bank Indonesia diketahui telah kehilangan cadangan devisa 10% selama tahun 2015 untuk membentengi nilai tukar di . Cadangan devisa Bank Indonesia saat ini (menurut update 30/11/15) ada di posisi US$ 100,240 – dan merupakan rekor terendah sejak Desember 2013. Berkurangnya besaran cadangan devisa dikhawatirkan akan membatasi kemampuan Bank Indonesia untuk mempertahankan nilai dari ancaman dampak kenaikan suku bunga AS dan perlambatan ekonomi Cina.

Bank Indonesia mengatakan pada hari Kamis (17/12) memprediksi tahun depan ada di kisaran 5,2 sampai 5,6 persen. Hal itu akan memberikan ruang kemungkinan lebih besar untuk penurunan suku bunga sebagaimana diminta pemerintah. Analis memperkirakan penurunan itu akan melemahkan rupiah, karena memberi kemungkinan lebih besar terjadinya capital outflow dari Indonesia.

Dikutip dari Antara (14/12), Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan jumlah Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dikonversi ke rupiah masih sangat minim walaupun yang disimpan di dalam negeri meningkat, sekitar 11 persen. Jika dibiarkan, keadaan itu akan melemahkan penggalangan cadangan devisa.

LembagaPrediksi USD/IDR 2016
ABN Amro Bank NV15.000
Nomura Holdings Inc14.850 – 15.200
Societe Generale SA15.300
14.750
APBN 201613.900

Walaupun pengamat dari luar Indonesia meniupkan nada pesimis, agaknya di dalam negeri mengungkapkan fakta berbeda. Dalam laporan rilis riset Mandiri Sekuritas kepada nasabahnya menyebutkan kenaikan Fed Rate akan berdampak kurang signifikan terhadap nilai kurs rupiah meskipun Bank Indonesia diproyeksikan memotong suku bunganya di 2016 sekitar 50 persen.

Kemungkinan terjadinya capital outflow dari Indonesia juga kecil. Indonesia tercatat memiliki suku bunga acuan cukup tinggi, dengan premi risiko yang dinilai lebih rendah. Angka credit default swap (CDS) Indonesia tercatat lebih rendah dibandingkan Afrika Selatan, Brasil, Rusia, dan Turki.

Menurut riset Mandiri Sekuritas, pelemahan nilai tukar rupiah kemungkinan hanya berkisar 1,6- 1,9 persen tahun depan. Jika angka itu dikalikan dengan asumsi APBN 2016, maka penurunan kurs rupiah tak akan melebihi angka Rp 14.200 per US Dollar.

Asumsi dalam riset tersebut mengabaikan kemungkinan jika harga komoditas terpuruk kembali akibat pelambatan ekonomi Cina atau terjadi kenaikan Fed Rate yang di luar perkiraan. Sebelumnya, pemerintah telah menyesuaikan asumsi kurs dollar dalam APBN 2016 ke angka Rp 13.900 per USD, dibandingkan dalam RAPBN yang diasumsikan di angka 13.400 rupiah per Amerika.

Loading...