Cadangan Devisa Surplus, Rupiah Berakhir Rebound 0,35%

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

JAKARTA – Mengawali Kamis (8/11) di area merah, malah mampu rebound pada akhir , didukung yang mencatatkan surplus, meski indeks dolar AS terus bergerak positif. Menurut paparan Index pukul 15.55 WIB, Garuda menguat 51 poin atau 0,35% ke level Rp14.539 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.651 per dolar AS, menguat 113 poin atau 0,76% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.764 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk melawan greenback, seperti yuan offshore China dan yen Jepang yang sama-sama melemah 0,16%.

Kemarin (7/11) sore, Bank Indonesia mengumumkan bahwa cadangan devisa dalam negeri pada akhir Oktober 2018 tercatat sebesar 115,2 miliar dolar AS. Angka ini meningkat dibandingkan catatan bulan September 2018 dengan 114,8 miliar dolar AS, atau surplus 400 juta dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor.

“Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman. “Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.”

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak menguat terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Kamis, setelah hasil pemilihan paruh waktu AS seperti yang diharapkan, yang membuat fokus investor bebas beralih pada kebijakan Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau 0,236 poin atau 0,25% menuju level 96,233 pada pukul 11.43 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, rapat kebijakan moneter FOMC (Federal Open Market Committee) yang berlangsung selama dua hari diprediksi akan mempertahankan sikap hawkish para pembuat kebijakan, meski masih akan menahan suku bunga pada kali ini. Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini, didukung AS yang solid dan naiknya inflasi.

“Dolar AS kemungkinan akan diuntungkan karena pasar masih memprediksi bahwa The Fed tetap akan mempertahankan sikap hawkish mereka,” jelas ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Perekonomian AS membutuhkan kenaikan suku bunga ketika tekanan upah sedang meningkat dan ada risiko ekonomi yang terlalu tinggi.”

Loading...