Cadangan Devisa Cetak Rekor, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah menguat hingga perdagangan Senin (10/5) sore - www.republika.co.id

JAKARTA – praktis tidak menemui kendala berarti untuk melaju mulus di zona hijau hingga Senin (10/5) sore karena banjir sentimen positif, termasuk rilis cadangan devisa Indonesia yang menembus rekor. Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda berakhir menguat 87,5 poin atau 0,61% ke level Rp14.197,5 per AS.

Mayoritas mata uang Asia juga terpantau bergerak naik melawan . Dolar Taiwan menguat 0,49%, won Korea Selatan menguat 0,53%, rupee India menguat 0,34%, ringgit Malaysia menguat 0,2%, peso Filipina menguat 0,15%, baht Thailand menguat 0,08%, dan yuan China menguat tipis 0,05%. Hanya yen Jepang, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura yang berada di zona merah.

“Rupiah menguat terhadap dolar AS setelah data nonfarm payrolls AS dirilis lebih buruk daripada proyeksi pada hari Jumat (7/5) kemarin,” papar analis uang, Ariston Tjendra, dilansir dari Katadata. “Laporan yang buruk ini memberikan penegasan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, belum akan mendiskusikan mengenai pengurangan stimulus moneter saat ini.”

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa salah satu sentimen positif bagi rupiah datang dari data cadangan devisa Indonesia bulan April 2021 yang sebesar 138,8 miliar dolar AS atau rekor tertinggi sepanjang sejarah. Menurutnya, cadangan devisa yang kuat mencerminkan bahwa Bank Indonesia punya amunisi yang kuat untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia menjelaskan, peningkatan posisi cadangan devisa pada April 2021 itu terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Bank sentral memastikan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,0 bulan impor atau 9,6 bulan impor dan pembayaran luar negeri pemerintah.

Dari pasar global, dolar AS masih merana di dekat level terendah lebih dari dua bulan versus mata uang utama pada hari Senin karena investor terus menilai implikasi kebijakan moneter dari laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan, menjelang pengumuman data minggu ini. Mata uang Paman Sam terpantau cuma naik tipis 0,03 poin atau 0,03% ke level 90,263 pada pukul 11.42 WIB.

Diwartakan Reuters, data nonfarm payrolls AS bulan April 2021 secara tidak terduga dilaporkan melambat. Pada bulan kemarin, hanya ada 266.000 pekerjaan yang ditambahkan perusahaan AS. menuturkan bahwa itu jauh dari apa yang diharapkan, dan diperlukan kemajuan substansial lebih lanjut sebelum mereka mempertimbangkan perubahan kebijakan moneter.

Loading...