Cadangan Devisa Naik, Rupiah Justru Melemah di Awal Dagang

Meski dilaporkan naik, namun justru harus melempem pada pembukaan Selasa (9/5) ini. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, Garuda mengawali perdagangan dengan 24 poin atau 0,18% ke level Rp13.319 per AS. Kemudian, pada pukul 08.34 WIB, spot kembali 28 poin atau 0,21% ke posisi Rp13.323 per AS.

Senin (8/5) sore kemarin, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia di akhir April 2017 tercatat sebesar 123,2 miliar dolar AS, atau lebih tinggi dibandingkan dengan posisi di akhir Maret 2017 yang sebesar 121,8 miliar dolar AS. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan devisa , yang antara lain berasal dari penerimaan pajak, devisa ekspor minyak dan gas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI).

“Penerimaan devisa tersebut melampaui devisa untuk utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Tirta Segara. “Posisi cadangan devisa per akhir April 2017 juga cukup membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.”

Meski demikian, data cadangan devisa dalam negeri yang menunjukkan angka positif belum mampu menjadi katalis untuk mendorong rupiah di zona hijau. Pasalnya, hingga Senin sore kemarin, indeks dolar AS masih mampu melejit 0,254 poin atau 0,26% ke level 98,902, seiring pelemahan euro di tengah meredanya euforia kemenangan Emmanuel Macron dalam Pemilu Presiden Prancis.

Pada perdagangan awal pekan kemarin, rupiah mampu mengakhiri transaksi dengan penguatan sebesar 35 poin atau 0,26% ke posisi Rp13.295 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda harus mengawali sesi dagang dengan pelemahan tipis sebesar 3 poin atau 0,02% di level Rp13.333 per dolar AS.

Loading...