Bursa Saham Global Terkoreksi, Rupiah Melemah di Akhir Pekan

www.bloomberg.com

yang kembali mengalami koreksi membuat mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah, tidak berdaya melawan AS sepanjang perdagangan Jumat (9/2) ini. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menyelesaikan akhir pekan dengan pelemahan sebesar 23 poin atau 0,17% ke level Rp13.628 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 50 poin atau 0,37% di posisi Rp13.605 per dolar AS pada akhir dagang Kamis (8/2) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi, dengan dibuka melemah 34 poin atau 0,25% ke level Rp13.639 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki daya untuk keluar dari teritori merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, siang tadi mematok berada di level Rp13.643 per dolar AS, melemah 41 poin atau 0,30% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.602 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga bertekuk lutut versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,30% menghampiri ringgit Malaysia.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak turun dari level tertinggi dua minggu pada Kamis hingga Jumat, terutama terhadap yen Jepang, setelah pasar saham dan obligasi dunia mengalami turbulensi. Mata uang Paman Sam tersebut turun ke level 108,50 yen Jepang, atau mendekati level terendah dalam empat bulan di posisi 108,28 yang tercatat tanggal 26 Januari.

Seperti dikutip Reuters, hilangnya dolar AS dari momentum ke atas memperkuat pandangan bahwa mata uang tersebut sedang berada dalam tren bearish. Sebelumnya, sebuah aksi jual di pasar saham sejak minggu lalu dan spekulasi bahwa Federal Reserve setidaknya bakal melakukan tiga kali kenaikan suku bunga pada tahun ini, mampu mendorong pergerakan greenback.

Namun, dolar AS kembali melemah terhadap yen Jepang dan franc Swiss karena investor mencari aset yang lebih aman ketika saham di Wall Street menderita kerugian yang tajam. “Anda memiliki opsi untuk beralih ke aset safe haven ketika pasar keuangan sedang bergejolak, terlepas dari seberapa baik global melakukannya,” tutur CEO FirstLine FX Currency Strategy di Randolph, New Jersey, Jason Leinwand.

Loading...