Bursa Asia Turun, Hambat Reli Mingguan Terbesar Sejak Desember 2011

Bursa Asia pada Jumat (19/2) tercatat menurun, yang sekaligus menghambat reli mingguan terbesar sejak Desember 2011. Menguatnya serta menumpuknya stok minyak yang membuat harga minyak dan pasokan energi turun, menjadi faktor penyebab jatuhnya bursa Asia.

Indeks Asia Pacific turun 0,5 persen menjadi 119,70 pada pukul 09.07 pagi di Tokyo. Sebelumya, indeks itu naik 6,5 persen selama empat hari terakhir setelah tenggelam sepanjang minggu lalu di tengah kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia dan anjloknya harga minyak.

“Sentimen harga minyak menjadi penggerak utama pasar saham dalam beberapa waktu terakhir,” kata kepala analis CMC Markets yang berbasis di Sidney, Ric Spooner. “Bagi para investor, kekhawatiran tentang harga minyak lebih tinggi dibanding potensi masalah pasar.”

Sejak awal Januari, kombinasi penurunan harga minyak, kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi terbesar di Asia, dan aksi jual di saham-saham perbankan mengirim saham global ke “pasar beruang” untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

Indeks Topix turun 1,2 persen setelah yen menguat 0,8 persen pada hari Kamis (18/2). Sementara, indeks acuan naik 8,3 persen untuk minggu ini, terbesar sejak 2009 silam. Saham di Tokyo melanjutkan reli usai Bank of Japan mengambil kebijakan moneter dan meredanya spekulasi aksi jual saham global.

Indeks melemah 0,2 persen dan indeks S & P / ASX 200 turun 0,4 persen. Adapun indeks Cina A50 turun 0,6 persen, sedangkan indeks Hang Seng Enterprises naik 0,3 persen. Di sisi lain, indeks The S & P turun 0,5 persen setelah sebelumnya naik selama tiga hari. West Texas Intermediate berjangka turun 0,9 persen.

Sementara menurut US Energy Information Administration, stok minyak mentah naik 2,15 juta barel menjadi 504,1 juta barel pada pekan lalu. Impor naik 11 persen, terbesar sejak April.

Loading...