Bursa AS Cemerlang, Rupiah Belum Mampu Bangkit di Awal Perdagangan Hari Ini

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

Jakarta rupiah dibuka melemah 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp 14.111 per di awal pagi hari ini, Kamis (25/4). Kemarin, Rabu (24/4), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp 14.105 per USD.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,49 persen menjadi 98,119, level tertinggi sejak Juni 2017. Dalam beberapa pekan ini Greenback terus melambung berkat dukungan data ekonomi yang positif.

“Belum tentu fundamental AS membaik secara dramatis atau apa pun seperti itu, tetapi secara relatif pasar AS terlihat seperti tempat menarik untuk memarkir modal,” ucap Direktur Strategi Valuta Asing dan Produk Terstruktur di Cambridge Payments Karl Schamotta, seperti dilansir Antara.

Para pelaku pasar saat ini tengah memantau rilis data produk bruto (PDB) Amerika Serikat untuk 3 bulan pertama tahun 2019 pada Jumat (26/4) mendatang agar mengetahui tanda-tanda apakah AS akan tetap lebih kuat dari ekonomi terkemuka lainnya.

kinerja keuangan kuartal I 2019 emiten di Amerika Serikat yang berhasil mengalami pertumbuhan melampaui harapan pasar rupanya berhasil menopang laju dolar AS sekaligus menekan gerak rupiah. Selain karena kinerja emiten AS, menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual pelemahan rupiah juga diakibatkan oleh kenaikan minyak.

“Emiten di bursa AS kinerjanya kebanyakan di atas ekspektasi, ini menimbulkan sentimen bahwa meski kini masih menahan kenaikan suku bunga, jadi muncul kemungkinan ke depan akan hawkish meski dalam waktu yang lama,” jelas David, seperti dilansir Kontan.

Pada perdagangan Rabu (24/4) waktu setempat Dow Jones Industrial Average menguat 0,55%, S&P 500 melompat 0,88%, sedangkan Nasdaq Composite naik 1,32%. David memprediksi rupiah akan bergerak pada rentang yang tipis di tengah penantian hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) mengenai tingkat suku bunga dan kebijakan moneter yang akan diambil.

Loading...