Budidaya Belum Maksimal, Pemerintah Masih Impor Kentang Atlantik

Kentang - www.tribunnews.comKentang - www.tribunnews.com

Di Indonesia, kentang varietas Atlantik banyak diminati oleh usaha, terutama untuk konsumen camilan seperti french fries yang biasa tersaji di . Sayangnya, budidaya yang belum maksimal dari dalam negeri membuat pemerintah tidak bisa serta-merta menutup kentang Atlantik meski banyak yang memprotesnya.

Pada akhir tahun 2016 lalu, Menteri , Enggartiasto Lukita, sempat meminta kepada Kementerian Pertanian untuk membekukan rekomendasi impor kentang Atlantik yang kerap disalurkan ke makanan olahan. Enggartiasto saat itu juga menegaskan pemerintah akan memberikan sanksi tegas bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan impor produk hortikultura, terutama produk kentang jenis Granola atau kentang sayur.

Namun, di lain sisi, dirinya mengakui bahwa meski varietas kentang Atlantik sudah dikembangkan di Indonesia, namun produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain itu, bibit kentang jenis ini juga harus diimpor karena belum bisa dihasilkan di Indonesia. “Pemerintah berkomitmen membantu petani untuk meningkatkan produksi varietas Atlantik secara bertahap dan melakukan pendampingan untuk pengembangan bibit unggul,” katanya seperti dikutip dari Kompas.

Senada, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Yanuardi, memaparkan bahwa pihaknya sudah lama tidak lagi mengeluarkan rekomendasi impor untuk kentang jenis Granola. Namun, untuk impor kentang varietas Atlantik, masih terus dilakukan mengingat tidak diproduksi di dalam negeri.

“Kalau petani ingin menanam kentang varietas Atlantik, maka harus ada kerja sama terlebih dulu dengan industri yang siap untuk menampungnya,” kata Yanuardi. “Pasalnya, kentang jenis Atlantik ini hanya laku untuk industri dan tidak laku di .”

Yanuardi mengakui bahwa petani sempat menanam kentang jenis ini ketika ada kerja sama dengan industri. Tetapi, upaya tersebut tidak berlangsung lama sehingga produksi kentang Atlantik di dalam negeri perlahan-lahan berkurang, dan saat ini benar-benar tidak ada lagi. “Jadi, kami ingin menggerakkannya dengan memberikan bibit unggul,” katanya.

Sebagai contoh, pada tahun rentang tahun 2005 sampai 2014 lalu, budidaya kentang Atlantik memang sempat menjadi motor penggerak warga Nusa Tenggara Barat, khususnya di Sembalun, Lombok Timur, dengan 1 kuintal bibit dapat memproduksi 10-12 ton per hektare. Sayangnya, produksi di tahun 2015 melorot yang terlihat dari areal tanam yang hanya mencapai 150 hektare dari target 600 hektare.

“Sarana produksi tidak tercapai pada tahun 2015 karena terbatasnya bibit dan ada sebagian warga yang menanam komoditas sayur yang lain secara bersamaan dengan kentang Atlantik,” ujar Kepala Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat, Husnul Fauzi. “Bibit kentang Atlantik yang masih diimpor dari Australia dan Selandia Baru juga menjadi kendala utama.”

Loading...