Budidaya Bawang Merah Secara Vertikultur dalam Paralon, Pria Ini Raup Keuntungan Besar

Budidaya Bawang Merah Secara Vertikultur dalam Paralon - indonesiabertanam.com

Dulu mungkin menekuni di pertanian atau terasa begitu merepotkan dan membutuhkan dana besar karena yang digunakan biasanya harus luas. Beruntung kini sudah banyak teknik yang memungkinkan para calon pebisnis untuk memanfaatkan sempit yang ada dengan media seperti pipa PVC atau yang lebih dikenal dengan sebutan paralon. Ada banyak jenis yang bisa dibudidayakan dalam paralon, mulai dari kangkung, sawi, bayam, hingga bawang merah.

komoditas yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia seperti bawang merah dianggap sangat menguntungkan. Apalagi jika bawang merah dilakukan dalam paralon, maka sang pembudidaya bisa menghemat banyak dan tentunya tak membutuhkan lahan terlalu luas. Budidaya bawang merah dalam paralon bisa dilakukan dengan beberapa teknik, yakni secara hidroponik, hidroganik, hingga yang belum lama ini sedang hangat diperbincangkan adalah secara vertikultur.

Salah seorang petani dan pengusaha agrobisnis asal Pasuruan, Jawa Timur, Suhadi berhasil meraup kentungan cukup besar dari budidaya bawang merah secara vertikultur. Menurut Pak Suhadi, sistem pertanian vertikultur ini sekilas terlihat mahal, tetapi sebenarnya murah lantaran media tanah dapat dipakai untuk berkali-kali panen.

Suhadi membuat kebun vertikultur dalam greenhouse berukuran 10 x 10 meter. Kemudian dalam kebun tersebut terdapat 300 pipa PVC yang berdiri tegak setinggi 2 meter. Tiap batang paralon diberi lubang sebanyak 120 lubang berdiameter 10 cm, dan di bagian tengah dipasang pipa PVC kecil sebagai saluran fertigasi, atau saluran untuk pemupukan dan penyiraman.

Media tanam yang digunakan bersifat porus supaya lebih mudah saat penyiraman. Setiap batang paralon (2 meter 120 lobang) bisa memanen 4 kg bawang merah. Dengan total 300 tonggak, maka sekali panen bisa mencapai 1.200 kg (4 kg x 300 pipa).

Bawang merah hasil budidaya vertikultur biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 25-35 ribuan per kg dan jika dihitung per tonggak dapat menghasilkan sekitar Rp 140 ribu. Coba saja kalikan dengan 300 tonggak, maka penghasilannya bisa mencapai Rp 42 jutaan. Cukup besar bukan?

“Umbi bawang merah yang ditanam secara vertikultur memang tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut,” kata Suhadi, seperti dilansir Jitunews.

Loading...