Budaya Inovasi Dorong Startup Asia Tampil ke Publik Global

Budaya Inovasi - asia.nikkei.com

TOKYO/JAKARTA – Perkembangan startup di Benua Asia, khususnya , akhir-akhir ini memang berlangsung dengan pesat. Kini, semakin banyak startup asal yang mengekor startup dari dan India dalam jajaran ‘raksasa’. Dan, menumbuhkan budaya inovasi, keragaman, serta pengambilan risiko yang sehat disebut dapat membuat startup di Asia lebih ‘muncul’ ke publik , dan mungkin bisa mengalahkan Silicon Valley.

Dalam startup yang disusun CB Insights, raksasa startup memang masih dikuasai China dan India. Ponsel asal China, Xiaomi, mampu menempati urutan kedua dengan nilai 46 miliar AS, disusul rekan senegara, Didi Chuxing, di posisi ketiga dengan nilai 33,8 miliar AS. Sementara, startup e-commerce asal India, Flipkart, berada di peringkat ke-12 dengan valuasi 10 miliar AS, dan rekan mereka, Snapdeal, masuk pada posisi ke-19 dengan nilai 7 miliar AS.

Namun, kini semakin banyak negara Asia Tenggara yang juga mengirimkan startup mereka dalam golongan elite. Selain Go-Jek, ada portal game dan penyedia e-commerce dari Singapura, Garena, dengan nilai 3,75 miliar , serta Grab (yang juga berasal dari Singapura) dengan nilai 3 miliar . Selama bertahun-tahun, startup di Asia telah digambarkan sebagai Silicon Valley yang bermain di lokal. Namun, ketika nilai mereka meroket, mulai menyadari bahwa para startup Asia ini meraih sukses lebih dari salinan karbon perusahaan-perusahaan Barat.

Go-Jek misalnya, meski memiliki banyak kesamaan dengan Uber Technologies, namun karena siapa pun tahu bahwa bepergian di Indonesia tidak mungkin tepat waktu jika menggunakan mobil, maka mereka menjadikan sepeda motor sebagai solusi yang lebih baik. Go-Jek tidak hanya menyediakan layanan antar-jemput penumpang, melainkan juga menghadirkan layanan kiriman paket bahkan layanan pijat.

Inovasi yang mengacaukan pasar memang bisa dipastikan bakal menimbulkan gesekan dengan pemain lama atau bahkan pemerintah, seperti protes sopir taksi di beberapa wilayah di Indonesia beberapa bulan belakangan. Namun, arus inovasi di Asia ini diyakini tetap tumbuh. “Asia memiliki banyak masalah seperti infrastruktur dan logistik, dan mereka menyajikan peluang besar bagi pemula untuk masuk dan memecahkan masalah di lapangan,” kata Teruhide Sato, pendiri Beenext yang berbasis di Singapura.

Investor tampaknya berbagi optimisme dengan Sato yang terlihat dari modal ventura yang diinvestasikan di startup Asia menggelembung menjadi 39 miliar dolar AS pada tahun 2016, sekaligus menyumbang sekitar 30 persen dari pembiayaan startup global, menurut laporan KPMG. Asia Tenggara sendiri telah mengalami peningkatan investasi lebih dari delapan kali lipat sejak tahun 2012.

Sayangnya, meski ada lonjakan aksi startup, namun aktivitas pendanaan tetap berpusat di China. Negara-negara Asia Tenggara, walau mencapai rekor jumlah, namun hanya mencatat investasi senilai 2,6 miliar dolar AS. Negara-negara di kawasan ini juga memiliki kekurangan dalam hal kedalaman pasar saham mereka. Menurut perusahaan Golden Gate Ventures yang berbasis di Singapura, hanya 11 IPO di Asia Tenggara sejak tahun 2005 lalu.

Menyadari hal itu, bursa saham Asia mengambil beberapa tindakan. Indonesia berencana untuk membentuk sebuah badan khusus yang akan memungkinkan para pendiri dan investor startup lebih mudah membawa perusahaan mereka ke publik. Sementara, bursa efek Thailand berencana mendirikan pasar baru untuk para pemula pada akhir September mendatang guna memberikan akses yang lebih muda bagi pengusaha dibandingkan dengan dua pasar yang sudah ada.

Pemerintah juga mulai memberikan dorongan pada startup lokal, seperti yang dilakukan Indonesia yang bertujuan menjadi ekonomi digital terbesar di dunia pada tahun 2020 mendatang. Adapun Carousell, perusahaan yang mengelola pasar untuk barang bekas, telah mendapat keuntungan dari inisiatif pemerintah Singapura.

“Untuk membangun lebih banyak raksasa di sini, kita perlu menumbuhkan budaya inovasi, keragaman, dan pengambilan risiko yang sehat,” papar CEO Carousell, Siu Rui Quek. “Pemuda harus dihadapkan pada inovasi dan teknologi sejak usia muda, dan lebih banyak kesempatan untuk melihat apa yang terjadi di negara lain dan seberapa cepat perusahaan teknologi global berlomba di depan.”

Loading...