Kelola Risiko Lewat Big Data, BRI Siap Layani Segmen Ultra-Mikro

Bank Rakyat Indonesia (BRI) - www.liputan6.comBank Rakyat Indonesia (BRI) - www.liputan6.com

JAKARTA – Rakyat Indonesia (BRI) mengalami pukulan telak ketika wabah Covid-19 menyebar di Tanah Air, dengan basis intinya, seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menanggung beban perlambatan tersebut. Namun, mereka siap untuk terjun lebih dalam ke ruang UMKM, karena melihat peluang pertumbuhan dalam menjangkau bisnis terkecil sekalipun, memanfaatkan besar yang bekerja sama dengan .

“BRI akan menjadi lebih dengan melayani segmen yang lebih kecil yang disebut ultra-mikro,” papar Direktur Utama BRI, Sunarso, dilansir dari Nikkei . “BRI bertujuan untuk menjangkau segmen ultra-mikro dengan ukuran pinjaman yang lebih kecil dari yang kami tawarkan ke segmen mikro. Pinjaman ini di bawah Rp10 juta (per pinjaman) dan memiliki tenor yang lebih pendek, karena sebagian besar bisnis ultra-mikro membutuhkan pinjaman setiap hari.”

Sejak hadir pada dekade 1970-an silam, BRI sudah melayani usaha kecil, dengan menyalurkan pinjaman kepada petani di pedesaan. Saat ini, hampir 65% pinjaman BRI adalah untuk UMKM, yang merupakan rasio terbesar di antara bank-bank besar di Indonesia. Pinjaman untuk sektor ini oleh sesama BUMN, Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI), masing-masing hanya menyumbang 20% ​​dan 26%. Sementara, Bank Central Asia (BCA), pemberi pinjaman swasta terbesar, mencatatkan 32%..

Dikelola dengan baik, pinjaman kecil diklaim menguntungkan. BRI adalah bank paling menguntungkan di Indonesia sebelum pandemi pada tahun 2019, mengumpulkan laba bersih Rp34 triliun. Meski demikian, pinjaman kecil juga lebih berisiko, terutama saat ekonomi terpukul. Laba bersih lembaga anjlok 46% pada tahun 2020, sekaligus penurunan terbesar kedua di antara bank-bank top Indonesia.

Namun, Sunarso percaya bahwa risiko dapat dikelola dengan kombinasi teknologi dan ratusan ribu personel lapangan. Untuk teknologi, bank telah membangun platform big data eksklusif yang menggabungkan informasi dari perusahaan grup dan mitranya untuk bertindak sebagai otak pusat guna menentukan hal-hal seperti risiko kredit dan profil pelanggan. ”Ini memungkinkan bank untuk memangkas waktu pemrosesan pinjaman pembiayaan mikro menjadi hanya dua menit,” sambung Sunarso.

Platform ini juga mendukung 500.000 agen bank, pihak ketiga seperti toko kecil yang bertindak sebagai cabang semu, yang tersebar di seluruh wilayah pedesaan dan menyediakan layanan dasar bagi penduduk yang sering tidak memiliki rekening bank. Mereka beroperasi di beberapa daerah yang masih sulit diakses oleh kebanyakan bank, apalagi oleh perusahaan fintech, karena biaya operasional yang tinggi.

“Seiring dengan transformasi serba digital, kita memang masih tidak bisa sepenuhnya meninggalkan cara-cara analog,” tambah Sunarso. “BRI akan mengkodifikasi desa-desa di Indonesia dan membuat database mikro dan ultra-mikro terbesar di Indonesia. Kodifikasi ini dapat membentuk ekosistem pedesaan dan inklusi .”

Ini adalah risiko yang layak diambil bagi BRI, mengingat peluang yang ditawarkan oleh populasi besar di Indonesia yang tidak memiliki rekening bank. Menurut data World Bank, negara terpadat keempat di dunia, dengan sekitar 270 juta orang, ini juga merupakan salah satu negara yang paling tidak memiliki rekening bank, dengan 95 juta dalam kategori itu pada 2017.

Desakan BRI untuk terjun lebih dalam ke segmen mikro sebagian datang dari pemerintah. Menteri BUMN, Erick Thohir, sempat mengatakan perlunya bank yang dikendalikan secara nasional yang siap bersaing dengan lembaga keuangan internasional yang masuk ke negara. Pada November lalu, ia mengarahkan BRI untuk fokus pada ultra-mikro dan UKM, sedangkan Bank Mandiri di sektor korporasi, dan BNI mendukung perusahaan yang bercabang di luar negeri.

“Strategi BRI dalam memperluas segmen ultra-mikro dapat menjadi katalis positif jangka panjang, mengingat BRI memiliki keunggulan kompetitif dan rekam jejak yang terbukti di segmen UMKM,” ujar Senior Equity Analyst MNC Sekuritas, Victoria Venny. “Pembentukan holding harus membantu BRI menampung sekitar 30 juta UMKM yang belum terlayani lembaga keuangan, dengan target 15 juta pengusaha ultra-mikro pada 2024.”

Saat ini, Indonesia memiliki 109 bank umum dan 1.506 bank perkreditan rakyat, dan pemerintah sudah lama berniat untuk mengurangi jumlahnya. Mereka secara aktif mencari pembeli, baik domestik maupun internasional untuk bank-bank kecil. Mitsubishi UFJ Financial Group dan Sumitomo Mitsui Banking Corp. masing-masing mengambil alih Bank Danamon dan Bank Tabungan Pensiunan Nasional. Sementara, Bangkok Bank asal Thailand membeli Bank Permata, sedangkan BCA mengakuisisi Bank Royal.

Perusahaan teknologi juga ikut serta melalui pendekatan yang mengutamakan digital. Gojek mengakuisisi 22% saham di Bank Jago pada tahun lalu, dengan rencana untuk mengintegrasikan layanan perbankan pemberi pinjaman kecil ke dalam platform yang sudah menawarkan layanan tumpangan, pengiriman makanan, dan pembayaran. Sementara itu, Sea asal Singapura sekarang menjadi pemilik de facto SeaBank, sebelumnya BKE (Bank Kesejahteraan Ekonomi).

Pengamat industri mengatakan, perusahaan platform teknologi menjadi ancaman bagi BRI dengan akses mereka ke data yang tidak dapat diakses oleh bank, seperti informasi belanja . “Kami dapat melakukan penilaian kredit dengan lebih efisien karena (kami) memiliki banyak data,” kata seorang eksekutif di salah satu perusahaan platform kepada Nikkei.

BRI sendiri berencana menjadikan BRI Agro, anak usaha yang mayoritas melayani sektor agribisnis, menjadi bank digital miliknya sendiri. Menurut Sunarso, BRI Agro sedang membangun ekosistemnya dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan fintech, saluran digital, dan ekosistem vertikal. “Ini akan membantunya menjangkau lebih banyak calon pelanggan melalui platform yang ada,” kata Sunarso.

Sambil mempersiapkan unit perbankan digitalnya sendiri, Sunarso juga meyakini bahwa digitalisasi sektor perbankan Indonesia perlu dilandasi oleh kolaborasi, bukan persaingan. Bank bermitra dengan Gojek dan Tokopedia dalam kerangka pinjaman bersubsidi yang disponsori pemerintah, dengan pengguna dapat mengajukan pinjaman di BRI melalui platform tersebut.

“BRI percaya (bahwa) untuk mencapai inklusi keuangan dan ekonomi, bank perlu terbuka untuk berkolaborasi dan bermitra dengan fintech dan platform digital,” lanjut Sunarso. “Dengan perubahan perilaku konsumen dan tren industri saat ini pasca-pandemi, tidak dapat dihindari bagi bank untuk hidup berdampingan dengan saluran digital dan fintech, termasuk pemimpin pasar seperti Gojek, Grab, dan Shopee.”

Loading...