Brexit tak Pengaruhi Keputusan The Fed, Rupiah Limbung

Jakarta – melemah 64 poin (0,47%) di level Rp 13.638 per AS pada penghujung Selasa (24/5). Mulanya, Rupiah dibuka dengan pergerakan stagnan di level Rp 13.574 per AS pada awal perdagangan sesi pertama.

Posisi Dolar AS diketahui semakin perkasa pasca keluarnya pernyataan dari James Bullard, ketua Fed St. Louis, bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa () tidak akan mempengaruhi keputusan rencana kenaikan . Hal ini diperkuat dengan pernyataan Ketua Fed San Francisco John Williams yang mengatakan bahwa bank sentral AS masih berencana menaikkan 2-3 kali di tahun ini, sebagaimana dikutip Bloomberg, Selasa (24/5).

Sontak saja, mayoritas mata uang Asia Tenggara kompak melemah, termasuk Rupiah. Pengamat ekonomi PT Bank Permata Josua Pardede juga membenarkan jika pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS adalah murni akibat peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan pasca rapat .

“Faktor sentimen tersebut yang menurut saya lebih dominan ketimbang faktor fundamental yg menurut saya justru membaik,” ujar Joshua di Jakarta, Selasa (24/5).

Pelaku pasar akan terus melihat perkembangan data-data Amerika Serikat ke depan. Data-data tersebut antara lain mengacu pada pendapatan domestik bruto (PDB) pada kuartal II/2016, realisasi inflasi yang dilakukan oleh Personal Consumption Expenditure dengan target mendekati 2%, serta membaiknya data tenaga kerja AS. Jika indikator mengarah pada perbaikan, maka cukup percaya diri untuk menaikkan suku bunga pada Juni 2016 nanti.

Selain faktor eksternal, para juga tengah menunggu pembahasan rancangan undang-undang (RUU) tentang Pengampunan (tax amnesty). Sebab, arus uang yang masuk dari tax amnesty diyakini bakal memperkuat Rupiah. Bahkan, penguatan ini bisa mencapai di atas nilai fundamental (over valuation).

Loading...